Isnan Ali adalah salah satu pemain bola terbaik di Indonesia yang melejit bersama Barito Putera Banjarmasin, tim nasional Indonesia dan Sriwijaya FC.

Isnan lahir pada tanggal 15 September 1979 di kota Makassar, Sulawesi Selatan. Sejak kecil bakat menjadi pesepakbola sukses sudah terlihat dari dirinya. Jatuh cinta kepada sepakbola sejak menyaksikan aksi individu Diego Maradona di Piala Dunia 1986, semakin membakar obsesinya menjadi seorang pemain bola profesional. Ia juga mendapat dukungan penuh dari keluarganya. “Mama papa juga selalu memberikan hadiah bola bundar untuknya apabila berpergian ke luar kota.” Bakatnya juga terus diasah dengan mengikuti pertandingan- pertandingan reguler sepakbola di kotanya yang biasanya diikuti orang- orang yang lebih dewasa.

Barulah sejak menduduki Sekolah Menengah Pertama (SMP) kelas 2, Isnan bergabung dengan Sekolah Sepak Bola (SSB) Bangau Putra di Sulawesi Selatan. Berlanjut ke PSM Junior 97-98, Isnan juga sempat mencicipi kejuaraan Hari Olahraga Nasional (Haornas) untuk 15 tahun keatas.

Karier sepakbolanya mulai melejit sejak bermain di kejuaraan Pekan Olahraga Daerah (Porda) Makassar, tahun 97-an. Saat itu ia melesakkan gol penentu yang membawa timnya juara di partai final. “Partai final itu adalah partai yang paling berkesan buat saya. Dengan coming from behind (menyerang dari bawah, red), sprint, dan sebuah gol saya cetak melalui heading.”

Isnan Ali kemudian bergabung dengan PT Telecom selama 2 tahun. Namun pada saat PT Telecom hendak berangkat ke sebuah kejuaraan nasional di Surabaya, Isnan dihadapkan oleh 2 pilihan. Fahri Amiruddin (Mitra Kukar) menyarankan agar Isnan mewakili tim PRA-PON Banjarmasin untuk mendorong karier sepakbolanya. Isnan sempat diterpa dilemma pilihan yang cukup berat. Namun pada akhirnya ia memutuskan untuk mewakili Banjarmasin di Pekan Olahraga Nasional.

Kesempatan ini membuka karier Isnan untuk bergabung dengan Barito Putera Banjarmasin di tahun 1999. Selain masih muda, di tahun pertamanya dengan Barito, tepatnya pada putaran ke-2 Liga, Isnan mulai bermain sebagai pemain inti. “Waktu itu kita away melawan Solo di Stadion Manahan dan saya pertama kali masuk line up.” Setelah itu, sang pelatih Barito, Daniel Roekito terus mempercayakan Isnan sebagai starter walaupun dirinya masih tergolong sangat muda di tim. Bahkan di tahun ke-2 bersama Barito Putera, Isnan dipanggil PSSI untuk bergabung bersama tim nasional Indonesia di kualifikasi Piala Dunia (2002) dan Sea Games Malaysia (2002).

Dengan status pemain tim nasional, Isnan sempat bergabung dengan PSSI Training Centre (TC) di Singapura, Malaysia dan Maldives. “Maldives adalah negara yang paling berkesan untuk saya, apalagi Maldives terkenal tempat TC dan liburan pemain-pemain bola terkenal di dunia.”

Bersama Barito Putera, Isnan dkk lolos 2 kali ke 8 besar Liga Indonesia yang diselenggarakan di Medan dan Padang. Di tahun 2002, Barito juga tengah mengantongi top skor Liga Indonesia, Bakoi Saddoiy. Ini adalah masa masa keemasan Barito Putera. Isnan juga terpilih memperkuat tim nasional Indonesia di Piala Tiger 2002, bahkan meraih runner-up bersama tim nasional Indonesia.

Setelah 2 musim bersama Barito Putera, Isnan merapat ke Persikota Tangerang (2003/2004). Ia sempat mengikuti TC di Sydney, Australia, Bulgaria, Jordania untuk persiapan Piala Asia 2005.

Di tahun 2005/2006 Isnan Ali berlabuh tim tetangga Persikota, Persita Tangerang. Sesuatu yang unik sewaktu membela Persita Tangerang adalah waktu melawan Sriwijaya FC. Isnan disibukkan dengan sebuah kasus pemukulan dengan Renato Ellyas yang juga merupakan rekan setimnya di Sriwjaya FC musim lalu. “Waktu itu saya stress berat melihat kepemimpinan wasit yang berat sebelah dan tidak menghargai perjuangan pemain. Tapi saya banyak belajar dari kesalahan tersebut.” Dan cap “bad boy” pun mulai melekat dalam dirinya ditambah dengan aksinya yang mengancungkan jari tengahnya kepada Renato setelah dikartumerahkan wasit. Di tahun 2006 ini juga, Isnan diundang masuk tim Liga Selection dalam pertandingan eksibisi melawan Africa Selatan. Sayang sewaktu tim nasional Indonesia sedang TC di Jakarta, Isnan Ali bersama beberapa pemain nasional lainnya seperti Kurniawan Dwi Yulianto sempat dicoret oleh pelatih Ivan Kolev karena indisipliner. Hal ini tidak menciutkan nyalinya bahkan membakar ambisinya untuk membuktikan bahwa dirinya sebagai salah satu pemain terbaik di Indonesia.

Isnan bergabung dengan pasukan Rahmad Darmawan di Sriwijaya FC 2007. Di tahun itu juga Isnan Ali menorehkan sejarah dengan meraih Double Winners, prestasi yang belum pernah diraih tim manapun di Indonesia. Di tahun pertamanya bersama Sriwijaya, Isnan diundang memperkuat pertandingan eksibisi antara Myteam v Selebritis dan Eks Pemain Nasional. Personil- personil Sheila On 7 seperti Rifki, Duta, Ridho dari SLANK, pemain- pemain legenda Indonesia Kurniawan Dwi Yulianto, Firman Utina, Robby Darwis juga ikut memeriahkan acara tersebut. Isnan juga pernah menjadi juru bicara sebuah produk bernama Panonim saat itu. Isnan juga merupakan salah satu duta SPECS, produk olahraga dalam negri yang go international bersama Cristian Gonzales, dan beberapa pemain top lainnya dari Negri Jiran, Malaysia.

Isnan Ali di Persib Bandung
Di Bandung Isnan bersama keluarganya bisa menyalurkan sejumlah hobi, mulai dari berburu beragam pilihan kuliner, tempat bermain atau wisata hingga tempat belanja atau sekadar nongkrong saat libur latihan.
Isnan mengaku, biasanya pada awal musim kerap pergi hangout bersama Baihakki Khaizan, Shahril Ishak, Rendi Saputra dan Rachmat Afandi.

Namun, karena duo Singapura tersebut sudah pindah, maka biasanya hanya Rendi yang kerap menemaninya.
Namun, Isnan beruntung. Biasanya saat akhir pekan, istri dan dua putri mungilnya kerap berlibur ke Bandung. Maka, berbagai tempat pun ia jelajahi untuk membuat keluarganya bahagia.

“Biasanya kalau ada keluarga, kita main ke Kampung Gajah di Lembang. Atau makan di Cafe Bali dan Rumah Kebun. Kalau santai bisa juga ke PVJ,” ungkap Isnan.

Beragam pilihan tempat main ini membuat eks pilar Sriwijaya FC tersebut terhibur. Apalagi ditunjang akses jalan di Bandung yang cenderung pendek. Makanya, Isnan mengaku sudah cukup hafal jalan meski jalan-jalan sendirian.

Soal penerimaan bobotoh, Isnan mengaku antusiasme bobotoh menjadi salah satu alasan dirinya hijrah ke Persib. Meski kerap kepergok bobotoh yang meminta foto saat dirinya tengah jalan-jalan, hal tersebut tetap cukup dinikmatinya. “Bobotoh-nya luar biasa,” tandas Isnan.

Bagi pemilik nomor punggung 25 ini, Kota Bandung akan semakin berkesan andai musim ini ia bisa membantu Persib meraih gelar juara, terutama di Piala Indonesia, ajang yang paling memberikan kans besar bagi Persib untuk mengakhiri paceklik gelar juara sejak 1994/1995.

Ia berharap seluruh pemain lebih kompak di putaran II Liga Super Indonesia (LSI) nanti, termasuk di Piala Indonesia serta bisa memberikan yang terbaik bagi Maung Bandung. Sehingga, bisa membuatnya untuk berlama-lama di Bandung.

“Disini semuanya serba enak. Udaranya sejuk dan banyak tempat bagus. Saya rasa sudah sangat betah tinggal disini,” pungkas pria kelahiran Makassar 15 September 1979 tersebut.

Tentang gol perdananya ke gawang Persijap Jepara pada laga pamungkas Maung Bandung putaran pertama Liga Super Indonesia 2010-2011 di Stadion Siliwangi, Minggu (13/2/2011) sebagai keberuntungan.

Namun, gol itu tentu saja bakal dikenang eks pemain Sriwijaya ini, sebagai salah satu pertandingan yang menimbulkan kesan tersendiri. Pasalnya gol tersebut menjadi gol perdana Isnan sejak memperkuat Persib pada musim ini.

Gol Isnan Ali menit ke-39 mengubah kedudukan imbang 1-1 menjadi 2-1, dan langsung membangkitkan kembali motivasi rekan-rekannya untuk kemudian memukul jatuh Persijap dengan skor telak 4-1.

“Tentu saja saya mensyukuri gol itu, karena Persib berakhir dengan kemenangan. Tapi jujur saja gol itu hanya kebetulan saja, sebelumnya tidak terpikir akan berbuah gol, saya hanya beruntung saja,” kata Isnan.

Gol perdana pemilik nomor punggung 25 ini dipersembahkan bagi putri pertamanya Sofwa Annama Fanesha Ali yang pada Selasa, 15 Februari nanti genap berusia 8 tahun. Ia juga berharap kemenangan dari Persijap ini menjadi awal kebangkitan Maung Bandung.

“Gol ini juga saya persembahkan untuk putri pertama saya yang berulang tahun. Saya juga berharap kemenangan ini akan menjadi awal kebangkitan Persib. Mudah-mudahan motivasi tinggi ini terus bertahan hingga akhir kompetisi,” harap Isnan.

ISNAN ALI
Full Name: Isnan Ali
Date of Birth: 15 September 1979
City: Makassar
Nationality: Indonesian
Chinese Sign: Ox
Zodiac Sign: Virgin
Height: 169
Weight: 67
Favourite Colour: White, Blue, Black
Childhood Nickname: Inank, Inang (NOT inang-inang sambu di Medan atau bahasa Sunda)
Childhood Team: Argentina
Childhood Hero: Maradona
Current Heroes: Maldini, Franco Baressi
Person you`d most like to meet: J-LO (NOT Julio Lopez)
Favourite Moviestar: Vin Diesel
Favourite Movies: Triple X
Favourite Actress: Jennifer Lopez
Favourite Music: Mellow, easy-listening
Favourite meal: Seafood
Favourite drink: Tomato Juice

Hobbies: “Hobby sepakbola, profesi penyanyi”

Karier:
1997-1998 PSM Makassar Junior
1999-2002 Barito Putera Banjarmasin
2003-2004 Persikota Tangerang
2005-2006 Persita Tangerang
2007-2009 Sriwijaya FC
2010-2011 Persib

Prestasi:
8 Besar Barito Putera 2001
Runner Up Piala Tiger 2002
8 Besar Barito Putera 2002
Juara Liga Indonesia 2007
Juara Copa Indonesia 2007
Juara Piala Indonesia 2010

Dari Berbagai Sumber