Zulkifli Sukur, pemain yang biasa berposisi sebagai bek ini mulai membela Arema sejak musim kompetisi Liga Super Indonesia tahun 2008. Pemain kelahiran 3 Mei 1984 di Makasar ini sebelumnya sudah pernah membela Pkt Bontang, Pelita Jaya pada tahun 2006 lalu pindah ke Persmin Minahasa di Tahun 2007. Hingga akhirnya berlabuh ke Arema Indonesia di musim Liga Super Indonesia tahun 2008 hingga sekarang. Zulkifly adalah salah satu pemain timnas U-23 yang mengikuti TC di Belanda arahan Foppe de Han dan Bambang Nurdiansyah.

Prestasi gemilang yang diraih pemuda asal Makassar, Sulawesi Selatan itu melalui proses panjang, yakni sejak usia tiga tahun. Zulkifli adalah anak keempat dari lima bersaudara. Sejak kecil ia diasuh tantenya Hajjah Nursiah sejak umur tiga tahun. Sang bocah kehilangan ayahnya sejak masih amat muda.

Bersama Hajjah Nursiah, Zulkifli tinggal di sebuah lorong di Jalan Gunung Lompobattang, Makassar. Berada di rumah berukuran 5 x 9 meter ini, pemuda berusia 26 tahun itu memulai karier sebagai pemain sepakbola.

Diawali bermain bola di depan rumah, talenta Zulkifli makin terasah. Saat berusia belasan tahun ia diboyong seorang teman ayahnya ke Gianyar, Bali untuk bertanding dengan bergabung dalam tim National Panasonic.

Sejak saat itu Zulkifli menancapkan cita-cita menjadi pemain sepakbola nasional. Tapi keinginan itu tak mudah dicapai. Keluarga tak mendukung karena khawatir cedera.

Kurangnya dukungan tak menyurutkan niat kerasnya menjadi pemain besar seperti sekarang ini. Pemain belakang tim nasional Indonesia ini mengumpulkan uang dari hasil menjadi tukang parkir jalanan. Uang yang terkumpul digunakan Zulkifli untuk membeli sepatu bola.

BIODATA
Nama Zulkifli Sukur
Kelahiran Makasar, 3 Mei 1984
Kewarganegaraan Indonesia
Posisi Defender
Klub Sekarang Arema Indonesia
No Punggung 3

KARIR

PKT Bontang
2006 Pelita Jaya
2007 Persmin Minahasa
2008-2011 Arema Malang

PRESTASI
2006 Timnas Indonesia U-23 Pra Piala Asia
2010 Runner-up Piala AFF 2010

Zul adalah bek andalan Tim Nasional (Timnas) Indonesia di Piala AFF 2010. Konsistensinya menjaga lini belakang timnas turut membantu penjaga gawang Markus Horizon sehingga tidak mudah kebobolan.

Ia juga dinilai rajin membantu dalam membuka serangan melalui sayap dengan memberikan umpan silang kepada pemain lainnya sehingga kerap tercipta peluang dalam mencetak gol.

Zul berani naik ke daerah lawan, tapi cepat turun di posisinya ketika mendapat serangan balik. Disiplin dalam permainan seperti itu diperagakan Zul dalam melakoni setiap pertandingan. Termasuk ketika turut mengantarkan Arema menjuarai Liga Super Indonesia (LSI) 2009/2010.

Padahal sebelumnya, pada musim kompetisi LSI 2008/2009, Zul lebih kerap menjadi pemain cadangan Arema. Jarang sekali dia menjadi pemain utama.

Baru pada musim kompetisi selanjutnya, saat Arema ditukangi pelatih dari Belanda Roberts Albert, usaha keras Zul terbayar juga. Ia kerap mendapatkan posisi pemain utama di setiap pertandingan, hingga akhirnya dipanggil timnas senior.

Mental baja

Zul rupanya bukan tipe manusia mudah menyerah. Sejak kecil, ia sudah ngotot bermain bola meski dilarang keluarga.

Masa kecil Zul dihabiskan di Makassar, Sulawesi Selatan. Di sana ia tinggal bersama tantenya. Saat itu, ayah Zul sudah meninggal dunia dan sang ibu merantau ke Papua bersama empat saudara Zul.

Ketika masih duduk di bangku sekolah dasar (SD), Zul bermain sepak bola di jalanan Kota Makassar bersama teman-temannya. Selalu begitu, setiap hari sepulang sekolah. Padahal setiap pulang main bola, baju Zul yang kotor selalu menjadi pemicu kemarahan sang tante.

Berbekal bola plastik, aspal jalanan itu memupuk mental Zul. Tanpa ia sadari, jalanan telah menjadi sekolahnya. Tidak hanya dalam mengembangkan bakat, mental, dan kebersamaan, tapi juga sebagai sarana dalam mewujudkan cita-cita.

Saat masuk SMP, kemauan Zul menjadi pemain sepak bola profesional tidak terbendung lagi. Anak keempat dari lima bersaudara ini berusaha keras bergabung di klub sepak bola Bangau Putra Makassar yang dilatih Kusnadi, jebolan Arema Malang.

“Waktu itu enggak punya sepatu,” kenang Zul.

Untuk meminta kepada ibu atau tantenya, Zul tidak berani. Sebab dari awal, niat Zul menjadi pesepak bola ditentang keluarga. Mereka berpendapat, pemain sepak bola di Indonesia tak punya masa depan.

“Kata orang tua menjadi pemain sepak bola tidak ada tujuannya,” ujarnya.

Saat ditentang begitu, Zul malah nekat. Sepulang sekolah, ia bekerja sebagai pencuci piring di kedai makanan coto makassar.

Karena upahnya tak cukup untuk membeli sepatu, Zul mencari tambahan dengan ikut menjadi tukang parkir. Terkumpullah Rp25 ribu, cukup untuk sepasang sepatu yang ia beli di pinggir jalan. “Saya masih ingat sepatu pertama yang saya beli seharga Rp25 ribu. Namanya sepatu murah, beli di pinggir jalan, ya kualitasnya tidak terlalu bagus,” kisahnya.

Namun, baginya itu sudah lebih daripada cukup untuk memulai jalan takdir dengan menimba ilmu di klub Bangau Putra.

Batal jadi tentara

Perjalanan karier Zul kemudian berlanjut ke klub Panasonik, lalu lolos PSM U-18. Sejak itu, Dewi Fortuna seolah terus menyertai Zul. Karakter yang sudah terbentuk sejak kecil sebagai pekerja keras serta konsistensinya dalam menjaga irama permainan sportif dan bersih mengundang perhatian manajemen PSM senior. Zul pun memulai kiprah di sepak bola profesional bersama klub yang berjuluk ‘Juku Eja’ tersebut.

“Di PSM tidak lama, hanya setengah musim kemudian ikut tim yang tergabung dalam pekan olah raga nasional (PON). Ketika itu, juara bersama Persipura-Persebaya,” katanya.

Sebagai pemain profesional, nama Zul semakin populer sehingga dilirik Persmin Minahasa, Pelita Jaya, dan PKT Bontang. Hingga akhirnya turut memperkuat timnas U-23 yang mengikuti TC di Belanda besutan Foppe de Han dan Bambang Nurdiansyah. “Dari pemain junior ke profesional, tentu saja sulit. Butuh kerja keras,” tegas lelaki 27 tahun ini.

Namun, seperti halnya kisah cinta, selalu ada upaya keras untuk mewujudkan apa yang menjadi lentera jiwa. Cinta Zul pada sepak bola membawanya ke titik saat ini. “Sebetulnya dulu pernah juga ingin menjadi tentara,” kata Zul.

Apalagi dia juga pernah ditawari masuk TNI oleh pamannya, yang juga anggota TNI. “Dulu sempat tertarik sebab TNI sering menggelar turnamen sepak bola. Kalau tidak salah, saat Agum Gumelar menjabat pangdam,” tutur Zul lalu tertawa.

Namun, ia tidak jadi ‘membelot’ menjadi tentara meski pilihan itu lebih didukung keluarga. “Dari awalnya saya senang sepak bola. Alhamdulillah berhasil dan bisa berkembang seperti saat ini,” katanya.

Dari Berbagai Sumber