SIAPA yang masih ingat lagu “Guerrilla Radio” dari band rap-metal terkenal Rage Against The Machine (RATM)? Atau hits “Bombtrack” yang bikin kepala manggut-manggut tanpa sadar itu?

Ya, RATM merupakan salah satu pengagum sosok revolusioner, Ernesto Che Guevara. Bahkan Tom Morello, otak dibalik musikalitas RATM, mengungkapkan kalau Che merupakan bagian dari band RATM. “Kami anggap dia (Che) sebagai personil kelima band kami” kata pria yang nyambi juga di band Audioslave ini.

Kepopuleran Che bukan hanya di musik. Bahkan di beberapa belahan dunia yang mengalami gejolak sosial, selalu menjadikan gambar Che sebagai mukjizat yang menentramkan seseorang dari kesusahan. Begitu kuatkah imej seorang Che?

Che memang seorang public relation yang handal. Fotonya berjudul Guerrillero Heroico adalah foto paling terkenal sepanjang masa. Dialah yang bertanggungjawab atas bangkitnya kaum tertindas melawan kesewenang-wenangan. Pokoknya, Che itu segalanya kalau soal keren-kerenan. Nah, apa Indonesia tidak punya sosok seperti Che? Wah! Banyak. Tapi yang paling mirip, menurut saya, adalah Bung Tomo. Dia sosok yang kurang lebih setipe dengan Che. Bukan hanya tampilan, bahkan jiwanya sebelas dua belas sama.
che-tomo-620x330
Penasaran? Mari kita lihat kemiripan mereka berdua:

1. Berwajah tampan (ikonik)

Tidak salah lagi. Semua sepakat wajah hispanik Che digandrungi oleh banyak gadis. Ditambah lagi ketika dia memakai seragam militer. Tampak makin gagahlah dia.

Bagaimana dengan Bung Tomo? Wajahnya juga tampan khas orang Indonesia. Dengan kulit sawo matang, rahang yang kuat, dan matanya yang memancar, Bung Tomo mewarisi kharisma yang setingkat dengan Bung Karno.

Selain itu, dua orang ini juga punya foto yang amat ikonik. Hampir semua orang mengenalinya. Tentu anda masih ingat foto Bung Tomo mengancungkan tangan di depan pengeras suara serta berlatar belakang seperti jaring laba-laba itu.

2. Pejuang yang Ogah Jadi Pejabat

Baik Che maupun Bung Tomo adalah sosok pejuang sejati. Mereka berjuang dengan hati nurani. Sehingga, ketika kemenangan datang, mereka tidak ribut dengan posisi jabatan. Bahkan terkesan, mereka tidak peduli dengan jabatan.

Che memang pernah menduduki beberapa posisi penting dalam pemerintahan Fidel Castro, seperti misalnya, Kepala Bank Sentral, Menteri Perindustrian, Wakil Kuba di PBB, tapi semua jabatan itu ditinggalkannya ketika panggilan hatinya mengatakan dia harus pergi ke Afrika untuk menyebarkan api revolusionernya. Dia sempat mengucapkan selamat tinggal kepada Fidel Castro dan seluruh rakyat Kuba yang mencintainya.

Senada dengan itu, Bung Tomo juga pernah menolak sebuah jabatan karena dia merasa bila menerima jabatan itu, hidupnya jadi seperti budak yang harus ikut aturan-aturan tertentu.

Sebuah perkataan yang terkenal dari Bung Tomo sebagaimana yang diungkapkan dalam surat kepada istrinya, Sulistina. “Persetan, ora dadi jenderal yo ora patheken,”. (Persetan, tidak jadi jenderal juga saya tidak peduli). Waktu itu, Bung Tomo menanggalkan pangkat Mayor Jenderalnya karena tidak cocok dengan Menteri Pertahanan Amir Syarifudin yang terkenal karena menjadi pendukung PKI/Musso.

3. Selalu Independen

Che adalah orang yang bertanggung jawab dalam konflik misil paling menegangkan antara Amerika dan Uni Soviet. Waktu itu, dia mendukung Uni Soviet yang komunis. Namun karena pengkhianatan, Che kecewa dengan Uni Soviet. Lalu dia memutuskan untuk tidak lagi mematuhi siapapun, entah itu Moskow maupun Beijing yang sama-sama sedang bersaing merebut pengaruh di sesama negara komunis. Che akhirnya lebih memilih mengembangkan gaya revolusioner versinya sendiri.

Apalagi Bung Tomo. Kalau Che mungkin masih enak, belum pernah dipenjara. Tapi Bung Tomo, selalu dipenjara, siapapun presidennya. Hal itu disebabkan oleh sikap kritisnya yang membuat telinga para pembesar jadi merah.

Sejak jaman Soekarno, dia sudah dikucilkan karena kebiasaannya mengkritik Soekarno yang mulai bermetamorfosis menjadi diktator cilik. Perannya dalam merebut kemerdekaan seolah-olah hilang begitu saja. Soekarno bahkan tidak memberikan suatu ruang apapun di pemerintahan agar Bung Tomo bisa berekspresi.

Sedangkan di jaman Soeharto, dia pernah dipenjara dua tahun karena mengkritik Soeharto terlalu diktator. Tapi dia juga tidak pernah takut dan khawatir menjadi oposisi. Itu bukti Bung Tomo masih tetap menjaga independensinya.

Dan, mungkin, sebagian orang tidak tahu. Bung Tomo baru resmi diangkat sebagai pahlawan nasional itu di tahun 2008 saat pemerintahan SBY. Itu artinya, 26 tahun setelah beliau wafat! Padahal nama Bung Tomo sudah kita hafal sejak masa SD dulu.

4. Orator handal

Meskipun berbeda karakter, baik Bung Tomo dan Bung Che sama-sama sosok orator yang hebat. Perbedaan keduanya hanyalah gaya berpidatonya. Che cenderung lebih kalem (dibanding Fidel Castro), sedang Bung Tomo kelihatan amat berapi-api.

Dalam salah satu pidato Che yang paling terkenal yaitu ketika berada di sidang umum PBB, Che menampar habis-habisan lembaga PBB sebagai lembaga yang gagal mengayomi perdamaian dunia. Che mengkritik sikap diam PBB terhadap penindasan yang terjadi merata di seluruh belahan bumi. Utamanya lagi penindasan oleh imperialisme, kolonialisme, dan Neokolonialisme.

Lalu bagaimana dengan Bung Tomo? Siapa yang tidak kenal suara menggelegar yang bikin jiwa bergetar hingga terharu saat Bung Tomo membangkitkan semangat Arek-Arek Suroboyo melawan kolonialis Belanda yang membonceng sekutu.

Masih ingatkah dengan teks berbunyi: Selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah yang dapat membikin secarik kain putih menjadi merah & putih, maka selama itu tidak akan kita mau menyerah kepada siapapun juga!

Kalimat pekik ‘Allahuakbar!’ tiga kali serta diakhiri dengan ‘Merdeka!’, membuat siapapun yang mendengarkannya akan bergetar. Dan apabila berada dalam kondisi peperangan Surabaya itu, mereka akan tergerak merangsek melawan musuh.

Pernah dalam suatu wawancara, Bung Tomo ditanya,”Mengapa Bung harus mengucapkan takbir saat pidato sebelum perang Surabaya pecah?”. Dengan enteng Bung Tomo menjawab,”Kalau bukan dengan takbir, dengan apalagi saya bisa membangkitkan semangat Arek-Arek Suroboyo ini??”.

5. Sayang Keluarga

Meskipun berjuang di front terdepan, kedua orang ini tidak pernah lupa keluarga. Saking cintanya terhadap orang-orang terdekat itu, baik Bung Tomo maupun Bung Che kerap menulis surat dengan penuh kalimat syahdu kepada orang tua, istri dan anak-anaknya.

Dalam sebuah surat untuk anaknya, Hildita, pada ulang tahunnya yang ke-10, Che menuliskan surat singkat yang amat manis.

“Aku tulis surat sekarang padamu, walaupun mungkin akan sampai di tanganmu sangat terlambat. Namun aku ingin kau mengetahui bahwa aku senantiasa memikirkanmu dan aku berharap kau amat berbahagia di hari ulang tahunmu ini. Kau sudah hampir menjadi gadis dewasa sekarang, dan aku tak bisa lagi menulis surat padamu seperti saat kau masih kecil dulu, mendongeng hal-hal yang lucu atau dongeng kosong.”

Che pun menutup suratnya dengan sifat kebapakannya. “Baiklah, Tuan Putri. Sekali lagi kuharap kau amat berbahagia di ulang tahunmu ini. Peluk mesra untuk ibumu dan Gina. Aku memberimu peluk erat seerat-eratnya hingga akhir perpisahan kita ini.”

Sejalan dengan Che, Bung Tomo juga tidak pernah lupa mengungkapkan isi hatinya ke dalam sebuah tulisan, terutama kepada istrinya, Sulistina. Salah satu surat cinta yang dikirim ke Sulistina, istri Bung Tomo berbunyi,”Aku rindu padamu tapi tak punya waktu. Bisa Jeng (Sulistina) menemuiku?” atau dalam kalimat lain berbunyi,”Jeng Lies aku cinta padamu. nanti kalau perang sudah usai. Dan…Kita akan membuat Mahligai.”

Bung Tomo juga menulis suatu penggambaran impiannya kelak. Waktu itu masih dalam masa perang berkecamuk. Bung Tomo menulis,“Tak terlalu tinggi cita-citaku. Impianku kita punya rumah diatas gunung. Jauuuh dari keramaian. Rumah yang sederhana seperti pondok. Hawanya bersih, sejuk & pemandangannya Indah. Kau tanam bunga-bunga dan kita menanam sayur sendiri. aku kumpulkan muda-mudi kudidik mereka menjadi patriot bangsa,”.

6. Penulis hebat

Seorang pejuang harus memiliki banyak keterampilan. Selain kemampuan orasi, Bung Tomo dan Bung Che ternyata memiliki kemampuan menulis yang amat baik. Bahkan beberapa bukunya menjadi sumber inspirasi bagi generasi masa kini.

The Motorcycle Diaries adalah karya Che yang paling fenomenal. Buku itu bercerita tentang pengalamannya keliling Amerika Latin, melihat kenyataan hidup orang-orang di sepanjang perjalannya. Konon, dari perjalanan itulah yang membentuk sikap heroiknya seperti yang kita kenal selama ini.

Mirip dengan Che, Bung Tomo juga rajin menulis. Salah satu buku yang terkenal berjudul “Menembus Kabut Gelap, Bung Tomo Menggugat”. Buku itu berisi tulisan-tulisan kritis Sutomo, nama asli Bung Tomo, terhadap perkembangan bangsa Indonesia.

Sama seperti pekik pidatonya, tulisan Bung Tomo juga sama menggelegarnya. Bung Tomo menulis, salah satu sifat bangsa Indonesia yang amat bahaya bagi kehidupan berbangsa yaitu ‘hobi menjilat ke atas, menindas ke bawah’.

7. Tidak takut mati dan ketika mati dalam keadaan berjuang

Bung Tomo dan Bung Che sama-sama sosok pemberani. Kegemaran mereka adalah menghadiri peperangan dimanapun front perjuangan itu berada. Padahal, normalnya, orang akan menjauh dari peperangan untuk menyelamatkan diri.

Che Guevara menanggalkan posisi politik yang nyaman di Kuba, dengan menghadiri revolusi di Kongo. Che menjadi duta revolusi di seluruh Afrika terhitung semenjak kedatangannya ke sana. Selesai dari sana (meskipun gagal), dia pergi lagi ke Bolivia untuk mengobarkan api revolusi yang sama. Namun malangnya, dia tertangkap dan dieksekusi mati di negara yang bukan tanah kelahirannya itu. Matinya dalam keadaan berjuang.

Bung Tomo bukan pejuang kacangan. Dia tidak mau hanya sekedar jadi orator. Dia ingin turut berjuang di lapangan bersama arek-arek Suroboyo. Waktu itu, Bung Tomo mendirikan Badan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI). Nama yang keren, bukan? Badan itu merupakan kumpulan pemuda-pemuda radikal yang rela mati demi bangsa dan negara.

Bung Tomo lah yang mengorganisir barisan pemuda itu dalam menyulitkan tentara sekutu/belanda. Bung Tomo bahkan ikut hijrah bersama kesatuan-kesatuan lasykar yang lain dari satu kota ke kota lain. Bisa diibaratkan, dimana ada Belanda, di situ ada Bung Tomo mengintai.

Bung Tomo meninggal pada tanggal 7 Oktober 1981 di Padang Arafah saat menunaikan ibadah haji.

Pernah dalam suatu wawancara, Bung Tomo ditanya,”Mengapa Bung harus mengucapkan takbir saat pidato sebelum perang Surabaya pecah?”. Dengan enteng Bung Tomo menjawab,”Kalau bukan dengan takbir, dengan apalagi saya bisa membangkitkan semangat Arek-Arek Suroboyo ini??”.

So, orang Indonesia nggak kalah keren kok. Kalau di barat sana punya Che Guevara sebagai simbol anti penindasan, kita punya Bung Tomo. Maka berbanggalah anak muda!

Sekarang, pertanyaannya, tolong beritahu saya sebuah lagu bertemakan Bung Tomo. Atau band yang bangga dengan ikon Bung Tomo. Ayo dong band-band Indonesia bikin lagu-lagu perjuangan dengan tema Bung Tomo. Masak RATM, Sepultura, Refused, dan band-band keren lainnya bangga banget sama Che Guevara, tapi kita malah nggak bangga sama ‘produk’ dalam negeri?*[]

Oleh: Cak Lentho (Konter Kultur)