Kesadaran bahwa bencana gempa dan tsunami bisa terjadi sudah ditanamkan ke semua penduduk. Oleh karena itu di pemerintah daerah juga dibuat suatu badan atau seksi pengamanan dan pengamatan bencana, yang salah satu tugasnya memberikan pengumuman lewat pengeras suara ( loudspeaker) kepada seluruh penduduk tentang kemungkinan tsunami dan bahaya bencana yang lain.

An old man is piggy-backed to safety after surviving the tsunami in
Pada tanggal 11 maret 2011, bulan lalu di daerah Minami-Sanrikucho, provinsi Miyagi, ada dua orang yang sedang bertugas di seksi pengamanan bencana itu yaitu Takeshi Miura ( bapak berusia 52 tahun ) dan Miki Endo ( wanita berusia 24 tahun ). Pada waktu kejadian sehabis gempa itu, Takeshi Miura menyuarakan lewat pengeras suara : “Tsunami sekitar 10 meter akan datang, diharap semua mengungsi ke daerah yang lebih tinggi”. Dia mengumumkan dari kantor yang terletak di lantai dua bersama Endo. Mereka berdua bergantian menyerukan pengumuman agar semua mengungsi ke tempat yang lebih tinggi.

Mungkin beberapa dari Anda pernah mendengar nama ini. Mereka adalah dua pahlawan pada musibah Tsunami di Jepang pada tahun 2011 lalu. Kedua orang ini adalah pekerja pemerintah terkait penanganan musibah. Pada saat Tsunami mendekati Jepang, kedua orang ini tahu bahwa mereka sebagai orang yang mengetahui dan menangani musibah tersebut harus mengutamakan keamanan publik. Hingga akhir hayatnya ditelan oleh Tsunami, kedua orang ini terus memberitahukan musibah yang terjadi ke masyarakat menyiarkan berita tersebut secara terus menerus dari pos mereka.

article-1365569-0B27A3A700000578-714_964x635
Setelah 30 menit mengumumkan kemungkinan tsunami itu, benar Tsunami datang. Teman satu kantor sudah mengingatkan ke Miura untuk segera pergi ke atap karena Tsunami sudah datang, namun Takeshi Miura ingin mengumumkan sekali lagi, temannya mendahului pergi ke atap. Sementara Endo mengatur microphone dan sistem pengeras suaranya, jadi mereka berdua masih ada di dalam ruangan penyiaran itu.

Istri dari Takeshi Miura, waktu itu bekerja di tempat lain berjarak sekitar 20 km dari tempat suaminya. Waktu itu istrinya mengenal betul bahwa suara yang ada di pengeras suara itu adalah suara suaminya, namun tidak lama kemudian suara pengumuman itu berhenti. Istrinya yakin mungkin suaminya sudah melarikan diri sehingga suaranya tidak terdengar lagi. Istri dari Miura ini bernama Hiromi.

Pada hari berikutnya, waktu ada pengumuman lagi, Hiromi mendengar suara pengumuman tapi bukan suara suaminya. Hiromi berkata: “suami saya bukan tipe orang yang meminta orang lain mengerjakan tugasnya”. Hiromi mencari suaminya di tempat pengungsian akan tetapi tidak menemukannya, namun demikian dalam kesedihan ada juga rasa kebanggaan yang diungkapkannya: “Setiap saya makan makanan hangat atau tidur dengan slimut hangat saya merasa kurang enak karena kamu tidak bisa, tapi suaramu menyelamatkan banyak orang, engkau melakukan tugasmu dengan baik”.

Orang tua dari Endo, bernama Meiko dan Seiki. Pada saat kejadian itu orang tuanya juga mendengar suara anaknya dari loudspeaker. Anaknya,Endo , baru satu tahun ditugaskan di bagian pengaturan bencana itu. Orang tuanya juga mencari di tempat pengungsian tetapi tidak menemukan. Kata Meiko, ibunya Endo : “Kalau kantor pengaturan bencana itu terletak di tanah lebih tinggi tentunya lebih banyak orang bisa diselamatkan, dan anak saya juga bisa selamat. Tetapi saya berterimakasih kepada anak perempuan saya karena sudah menyelamatkan banyak orang, saya bangga akan dia”.

(Sapto Nugroho – kompasiana)