Merdeka.com – “Hanya bangsa yang besar yang menghargai jasa para pahlawannya,” kata Presiden Soekarno tahun 1961. Dia kemudian mengeluarkan pesan Jas Merah, “Jangan sekali-sekali melupakan sejarah.”

Namun dalam perjalanannya, sejumlah tokoh besar tak dicatat dalam sejarah. Banyak para pejuang yang mempunyai pemikiran komunis malah lenyap dari sejarah.
dicap-komunis-orang-orang-berjasa-ini-lenyap-dari-buku-sejarah
Bahkan nama mereka nyaris tak disebutkan dalam buku pelajaran sejarah, selain menyebutkan mereka orang komunis. Padahal mereka punya peran tak kecil dalam perjuangan negeri ini di bidang politik, seni dan budaya.

1. Alimin

Alimin Prawirodirdjo adalah sosok yang aktif dalam pergerakan nasional sejak muda, ia pernah menjadi anggota Budi Utomo, Insulinde dan juga salah seorang pendiri Serikat Buruh Pelabuhan (dulu namanya Sarekat Pegawai Pelabuhan dan Lautan).

Alimin juga menjadi tokoh yang berpengaruh dalam Serikat Islam yang dirintis oleh Haji Samanhudi di Surakarta pada tahun 1905.

Alimin bergabung dengan SI Merah yang berasas sosialis komunis pada saat SI pecah.

Alimin juga memperkuat PKI bersama dengan Musso. Dia mengobarkan pemberontakan melawan Belanda tahun 1926. Namun pemberontakan ini cepat dipadamkan pemerintah kolonial. Banyak anggota PKI yang dibunuh Belanda.

Jadi buronan, Alimin ke luar negeri. Dia berkelana dari Moscow hingga China.

Alimin pulang ke Indonesia setelah Republik Indonesia diproklamasikan. Dia kembali bergabung dengan PKI, sebagai tokoh senior. Sempat menjadi anggota konstituante di era Orde Lama.

Dia meninggal tanggal 24 Juni 1964 dalam usia 75 tahun. Dua hari kemudian Alimin diangkat jadi pahlawan nasional.

2. Tan Malaka

Jauh sebelum orang lain mengumandangkan Indonesia merdeka, Tan Malaka sudah melakukannya. ‘Naar de Republiek Indonesia’ (Menuju Republik Indonesia) ditulisnya pada 1925. Menjadi rujukan Soekarno dan tokoh pergerakan lainnya.

Tan dianggap berbahaya, dia dibuang pemerintah kolonial Belanda. Dia dibuang ke negeri Belanda. Dari sana dia berkeliling dunia. Menggelorakan perlawanan pada imperialisme.

Setelah Indonesia merdeka, Tan tak mau Belanda atau Inggris, atau negara mana pun menjajah Indonesia kembali. Dia berduet dengan Jenderal Soedirman menggelorakan perlawanan.

Tan ditembak mati tentara Indonesia 21 Februari 1949. Dia lalu dijadikan pahlawan nasional. Tapi nama Tan Malaka seolah tenggelam.

Meski pernah menjadi ketua Partai Komunis Indonesia, Tan Malaka justru tidak disukai oleh elite partai tersebut.

Sebabnya, Tan Malaka tak mendukung pemberontakan PKI 1926-1927. Tan Malaka juga lepas hubungan dengan Moskow karena dia kecewa atas sikap Stalin yang dinilainya pragmatis dan mengambil keuntungan dari pemberontakan yang berujung gagal itu.

Saking tak sukanya, Muso bahkan sempat berucap akan menggantung Tan Malaka jika bertemu.

3. Pramoedya Ananta Toer

Di zaman revolusi kemerdekaan, Pramoedya Ananta Toer dipenjara di Bukit Duri Jakarta (1947-1949). Lalu, Pram, sapaan akrabnya, dijebloskan lagi ke penjara di zaman pemerintahan Soekarno karena buku Hoakiau di Indonesia, yang menentang peraturan yang mendiskriminasi keturunan Tionghoa.

Sebagai anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang dicap sebagai organisasi sayap Partai Komunis Indonesia (PKI), Pram kembali ditangkap. Bahkan dia dibuang ke Pulau Buru sampai tahun 1979.

Setelah bebas, Pramoedya dijadikan tahanan rumah dan masih menjalani wajib lapor setiap minggu di instansi militer. Buku-bukunya juga banyak yang dilarang beredar terutama di era Soeharto.

Padahal buku Pram diterjemahkan ke berbagai bahasa. Dijadikan salah satu karya sastra terbaik dunia. Pram pun menyabet banyak penghargaan dari luar negeri.

4. Tirto Adhi Soerjo

Mungkin tak ada orang yang lebih menghormati perintis pers pribumi Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo, selain sastrawan Pramoedya Ananta Toer. Pram menuliskan biografi Tirto dalam buku ‘Sang Pemula’.

Pramoedya juga menuliskan kisah hidup Tirto yang dikemas dalam bentuk novel yang dikenal dengan ‘Tetralogi Buru’. Empat buku yang berjudul Bumi Manusia, Anak Segala Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca menceritakan seorang pria bernama Minke. Minke adalah panggilan untuk TAS alias Tirto Adhi Soerjo.

Berkat Pram, sosok Tirto mulai dikenal. Tapi karena Pram pula Orde Baru menganggap Tirto adalah seorang komunis. Pramoedya adalah tokoh Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA) yang dicap sebagai organisasi sayap Partai Komunis Indonesia (PKI) oleh Orde Baru. Pram juga sempat dibuang ke Pulau Buru sebagai tahanan politik.

“Karena biografi Tirto ditulis Pramoedya maka dipukul rata saja oleh Orde Baru. Seolah-olah Tirto juga adalah seorang komunis. Apalagi Tetralogi tentang Tirto ditulis saat Pram berada di Pulau Buru,” kata Iswara Noor Raditya Akbar penulis buku Karya-Karya Lengkap Tirto Adhi Soerjo: Pers Pergerakan dan Kebangsaan yang diterbitkan Indonesia Buku (2008).

Karena itu peran Tirto seolah tersisihkan dari sejarah. Pemerintah Indonesia baru memberikan gelar pahlawan Nasional pada tahun 2006. 100 Tahun setelah Tirto mendirikan surat kabar Medan Prijaji tahun 1906. Inilah surat kabar pertama yang dikelola pribumi dan berani mengkritisi pemerintah kolonial Belanda.

Sebelumnya Tahun 1973 pemerintahan Soeharto merasa cukup dengan memberikan gelar ‘Perintis Pers Indonesia’ pada Tirto. Keluarga Tirto pun meyakini leluhur mereka bukan seorang komunis.

5. Mas Marco Kartodikromo

Mas Marco Kartodikromo merupakan wartawan dan sastrawan yang dekat dengan wartawan pertama di Indonesia pejuang pergerakan Tirto Adhie Soerjo.

Selin itu, dia juga Marco dikenal sebagai aktivis Sarikat Islam beraliran merah. Dia pun termasuk dalam rombongan orang-orang yang dibuang.

Sebagai seorang jurnalis, Marco dikenal sebagai salah seorang jurnalis tangguh. Ciri khas yang terlihat, dia selalu menulis apa yang dilihat dan dirasa secara lugas. Tanpa ditutupi-tutupi. Tidak juga serba dipoles-poles, hingga akhirnya melenyap esensinya.

‘Doenia Bergerak’ adalah surat kabar yang dibesarkan dan membesarkannya. Marco menjadikannya sebagai alat untuk menyampaikan gagasan akan sebuah perjuangan yang modern.

(merdeka.com)