REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA — Abu Gunung Kelud yang menyelimuti Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko dapat melapukkan batu-batu candi. Karena itu, pembersihannya harus dilakukan secara hati-hati agar tidak ada debu yang tertinggal atau bersihnya sempurna.

Menurut Aryono, Wakil Kepala Unit Bidang Operasional 1  PT Taman Wisata Candi Borobudur, pembesihan abu vulkanik Gunung Kelud dari Candi Borobudur dilakukan sejak Senin (17/2). Untuk pembersihan dilakukan manajemen PT Taman yang dibantu ratusan orang dari Balai Konservasi Borobudur, Kodim 0705/Magelang, dan karyawan Atria Hotel and Conference (AHC) Magelang, HPI (Himpunan Pramuwisata Indonesia), Kopari, dan masyarakat sekitar Borobudur.
Gambar
Dijelaskan Aryono, untuk mengurangi debu yang menempel di Candi Borobudur, pihaknya telah menyelimuti sebanyak 72 stupa dan satu stupa induk dengan plastik.

Pembersihan diawali dengan membuka plastic penutup 72 bangunan stupa dan satu stupa induk. Setelah itu dilakukan pembersihan di dinding, stupa, dan penyapuan debu di pelataran. “Pembersihan kira-kira butuh waktu 10-15 hari,” kata Aryono.

Menurut Kepala Balai Konservasi Borobudur, Marsis Sutopo pembersihan Candi Borobudur dilakukan dua tahap. Pertama, pembersihan kering yang dilakukan dengan menggunakan sapu, sikat ijuk, sekop untuk mengangkat abu vulkanik yang menempel di bebatuan candi. Kedua, pembersihan basah dengan menyemprot air ke bebatuan.

Abu vulkanik ini, kata Marsis, keasamannya antara 5-6 Ph dan bisa melapukkan bebatuan candi. Kadar keasaman ini, dinilai cukup aman dibandingkan dengan keasaman abu vulkanik Merapi yang mencapai 3-4 Ph. “Meskipun demikian pembersihan harus tuntas,” katanya.