7 tahun telah berlalu sejak syahidnya (insyaAllah) Syaikh Ahmad Yassin, anak-anak muda Gaza masih mengingat dengan jelas sosok karismatik Syaikh Ahmad Yassin. Ketika mereka masih anak-anak, Syaikh Yassin sering merawat dan mengajar mereka tentang pelajaran-pelajaran agama dan tentang kehidupan mereka sehari-hari. Dan anak-anak muda tersebut sekarang tumbuh dalam bimbingan serta pendidikan iman dan keislaman lewat tangan Syaikh Yassin yang lumpuh, pendiri Gerakan Perlawanan Islam di Palestina Hamas.

Syaikh Ahmad Yassin terkenal karena rasa humorisnya dan kebaikannya kepada anak-anak di Gaza. Dia mencintai dan bersimpati dengan anak-anak tersebut dan anak-anak Gaza bahkan menganggap Syaikh Yassin seperti ayah mereka sendiri yang lembut dalam mendidik mereka.

Koresponden PIC ingin mengingat sisi lain dari aspek kehidupan Syaikh Ahmad Yassin, ia mewawancarai sejumlah anak muda yang semasa anak-anaknya mereka sempat shalat subuh bersama dengan Syaikh Yassin, sebelum akhirnya setelah shalat subuh di lingkungan As-Sabra Gaza di mana ia tinggal, tembakan rudal dari pesawat tempur Israel menghancurkan tubuh Syaikh Ahmad Yassin yang renta tersebut.

Penceramah favorit

Musbah Shaghnuby (15 tahun), sangat ingat kenangan ketika ia waktu masih berusia 8 tahun, Syaikh Yassin sering memanjakan dia dan anak-anak di lingkungannya. Mereka menganggap Syaikh Yassin sebagai ayah yang penuh kasih sayang terhadap mereka, Musbah mengatakan: “Semoga Allah memberkati dia, dia adalah ayah dari semua orang Palestina dan seorang kakek bagi anak-anak mereka”.

Dia menambahkan: “kami sering mengiringi Syaikh Yassin baik di masjid ataupun di rumahnya yang sederhana, dan ia sangat menghargai kami ketika kami shalat Subuh di masjid dan mau menghafal Al-Qur’an”.

Musbah melanjutkan: “terus terang, saya tidak terlalu suka mendengarkan khotbah kecuali khutbah atau ceramah dari Syaikh Yassin, bukan semata-mata karena dia Syaikh Yassin, tetapi karena kata-kata yang ia sampaikan memang berasal dari hati dan penuh dengan kata-kata yang membangkitkan semangat dan menyenangkan. Syaikh Yasin sering menyerukan kepada orang-orang untuk rajin belajar dengan ketekunan, serta terus menambah ilmu pengetahuan “.

Musbah juga berbicara tentang syahidnya Syaikh Yassin, waktu itu ketika ia dan keluarganya sedang tidur tiba-tiba terbangun oleh suara ledakan yang mengerikan yang ternyata ledakan itu telah menyebabkan kematian Syaikh dan warga sipil lainnya yang bersama dengan dia. Dia mengatakan: “Kami semua sangat sedih oleh kematian Syaikh Yassin. Saya mencintainya lebih dari keluarga saya sendiri. Saya menganggap dirinya sebagai seorang kakek, pemimpin dan panutan. Saya tidak melihat dan sepertinya tidak akan pernah melihat orang yang lebih baik daripada dia saat ini.”

Bahkan dalam kesyahidanya, dia mengasihi tetangganya.

Ahmad El-Muzainy, seorang pemuda yang mengenal Syaikh Yassin, mengatakan: “Syaikh Yassin lebih suka mati sebagai syahid di jalan Allah, namun tidak di tempat tidurnya, karena ia tidak ingin tetangganya dirugikan oleh pembunuhan terhadap dirinya yang mungkin menyebabkan jatuhnya lebih banyak korban. ”

El-Muzainy menambahkan: “Syaikh Yassin telah meninggal, semoga Allah memberkati dia dan memberinya surga-Nya yang luas. Semua pemuda dari Kompleks Masjid Islam akan mengikuti jalan Syaikh Yassin dalam segala cara yang bisa dilakukan”.

Syaikh Yassin adalah ikon keIslaman, nasional dan sosial yang akan tetap terukir dalam memori semua orang Palestina dan umat Muslim di seluruh dunia, khususnya mereka yang dekat dengannya saat mereka mengingat dirinya yang telah mempengaruhi diri mereka dalam semua aspek kehidupan. Semoga Allah memberkati Syaikh Yassin dan para pemimpin rakyat Palestina dan umat Muslim di dunia untuk mengikuti jalan-Nya.

Kesyahidannya

Abil Qadir Abdil Aal, seorang pemuda 19 tahun yang tinggal di dekat rumah Syaikh Yassin, mengatakan: “Saya bersama Syaikh Yassin beberapa saat sebelum ia syahid ketika kami shalat subuh bersama di kompleks Masjid Islam yang dekat dengan rumah kami.

Beberapa menit setelah shalat subuh berakhir, Syaikh Yassin meminta semua anak muda di dalam masjid untuk segera pulang ke rumah mereka masing-masing, sehingga merekapun meninggalkan masjid. Begitu mereka tiba di rumah mereka, mereka terkejut dengan suara bom yang ternyata menargetkan tubuh lumpuh Syaikh Yassin”.

Abdiel Aal menyebutkan beberapa kegiatan yang sering Syaikh Yassin lakukan di komplek Masjid Islam di dekat rumahnya: “Syaikh Yassin sering mendorong kami sebagai anak-anak muda untuk rajin berlatih olahraga, ia sangat menghargai kam.”

Selain itu, ia juga sering mengatur kegiatan-kegiatan yang memotivasi para pemuda dan anak-anak untuk datang ke masjid serta mendorong para anak muda untuk lebih bertanggung jawab. Ia sangat bermurah hati dan tidak pernah menolak setiap pengemis yang mendekatinya. Ia juga mencintai Jihad dan perlawanan untuk membebaskan Palestina dari pendudukan zionis Israel.”

Di saat-saat sebelum Syaikh Yassin terbunuh, sambil menangis Abdil Aal mengatakan: “Saya sedang duduk bersama sepupu saya, asy syahid Amir Abid Aal, dan asy syahid Mu’min Al Yazuri yang ikuta mati syahid bersama dengan Syaikh Yassin.

Di belakang Syaikh Yassin, ada dua pengawalnya, lalu Syaikh Yassin bertanya kepada mereka: “Bagaimana cuaca di luar?” Lalu salah seorang dari mereka menjawab: “cuaca terlalu dingin. Jadi, jangan keluar dulu nanti malah menjadi ‘sakit’. Ini merupakan upaya para anak muda untuk mencegah Syaikh keluar dari masjid, sehingga pesawat bisa menyerangnya. ”

Dia dengan susah payah melanjutkan: “Langit penuh dengan puluhan pesawat dari semua jenis, jika saya tidak melebih-lebihkan.” Kami hanya menyadari sesaat kemudian bahwa ternyata mereka sedang menunggu Syaikh Yassin untuk diserang. Saya berkata kepada Syaikh: “langit mendung dengan banyak pesawat dan situasi sangat berbahaya. Syaikh Yassin dengan tenang menjawab: “Anakku ..Tak ada yang bisa lolos dari takdir-Nya ”

Anak Palestina itu mengatakan bahwa Syaikh meminta semua anak muda yang berada di masjid untuk segera pulang ke rumah mereka masing-masing demi keselamatan mereka.

Syaikh kemudian menunggu sampai semua dari mereka pulang ke rumah mereka masing-masing, kecuali Mu’min Al Yazouri, Amir Abid Aal dan pengawal yang tinggal bersamanya. Lalu, saat mereka keluar dari masjid, tidak lama kemudian pesawat-pesawat Zionis menyerang mereka. Syaikh Yassin syahid (insyaAllah) bersama dengan teman-temannya, Mu’min dan Amir.
(eramuslim)