AKARTA, RIMANEWS – Meski nasib sandera WNI yang disandera perombak Somalia dalam keadaan kriti. Pemerintah Indonesia sampai saat ini masih mencari cara untuk menyelamatkan mereka. Duta Besar Somalia Muhamod Olow Barow mengungkapkan, cara terbaik dalam menyelamatkan 20 anak buah kapal MV Sinar Kudus yang disandera perompak Somalia adalah dengan bernegosiasi terlebih dahulu. Jika negosiasi menemui jalan buntu, baru pemerintah menggunakan aksi militer.

Hal tersebut disampaikan Barow dalam jumpa pers di Kedutaan Besar Somalia, Setiabudi, Jakarta, Rabu (13/4/2011). “Seluruh negara seperti Malaysia India, pertama negosiasi dengan para perompaknya. Kalau tidak berhasil, baru militer,” katanya.

Menurut Barow, negosiasi dapat dilakukan PT Samudera Indonesia selaku pemilik kapal. Mereka dapat berkomunikasi langsung dengan para perompak dan meminta nilai tebusan yang diajukan para perompak diturunkan. Tawar menawar nilai tebusan tersebut, kata Barow, biasa terjadi.

“Itu biasa, mereka minta 7 juta dollar AS lalu turun jadi 1 juta, itu biasa. Komunikasikan, rundingkan itu kita 100 persen siap bantu Indonesia,” jelasnya.

Barow memperingatkan agar negosiasi tidak dilakukan banyak pihak. Jika banyak pihak yang berkomunikasi dengan para perompak, lanjutnya, bajak laut itu akan semakin berani menaikkan harga. Demikian juga dengan pihak media. Ia menyarankan media tidak berlebihan dalam memberitakan aksi bajak laut Somalia itu.

“Media yang telepon ke perompak-perompak itu enggak boleh. Itu harusnya yang punya kapal dan pemerintah yang bisa komunikasi, bukan orang lain. Ini akan memperburuk (keadaan). Kalau banyak orang yang telepon mereka, mereka lihat ini kesempatan emas,” papar Barow.

Ia juga mengungkapkan, sebanyak 60-70 persen negara-negara yang berhadapan dengan bajak laut memilih opsi menebus sandera dengan sejumlah uang. Namun ada juga yang memilih opsi militer sejak awal seperti Perancis. “Perancis tidak pernah negosiasi. India dulu (membayar tebusan uang), tapi sekarang capek, mulai perang. Kore juga capek, mulai perang,” tuturnya.

Lebih jauh Barow mengatakan, pemerintah Somalia akan tetap mendukung apapun opsi yang dipilih Indonesia. Jika ingin menggunakan aksi militer, Somalia mempersilakan. Sejak 2008 Somalia mengizinkan negara manapun menggunakan aksi militer mambantu Somalia berantas para perompak yang memang kerap beraksi di salah satu negara Afrika itu. “Kita siap bantu. Beri informasi intelijen, tukar informasi, kita siap,” ucapnya.

Aksi perompak tersebut, menurut Barow bukan sekadar kriminal biasa. Aksi mengumpulkan uang dengan cara menyandera kapal itu merupakan bisnis internasional. Uang hasil rampasannya, kata Barow, tidak hanya dinikmati para perompak. “Ini kriminal internasional. Bukan hanya dinikmati orang Somalia, para perompak, tapi ada yang dikirim ke negara lain,” ujarnya.

Seperti diberitakan, kapal milik PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR) itu dibajak di semenanjung Somalia dalam perjalanan dari Pomalaa, Sulawesi Selatan, menuju Rotterdam, Belanda. Para pembajak mengambil alih kapal sekitar pukul 14.27 WIB pada Rabu (16/3/2011).

Sebanyak 20 awak kapal yang seluruhnya berkebangsaan Indonesia dalam keadaan selamat. Semula, para perompak meminta tebusan 2,6 juta dollar AS, yang kemudian dinaikkan menjadi 3,5 juta dollar AS. Nilai tebusan dinaikkan karena pemilik kapal tak kunjung membayar sesuai permintaan perompak. [mam/kps]