Marak Bentrokan, Indonesia Berkultur Perang

DEPOK – Bentrokan warga yang terjadi di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel) terkait sidang Blowfish maupun bentrokan warga di Tarakan, Kalimantan Timur, dinilai sebagai luapan ekspresi kebrutalan yang ditunjukkan masyarakat.


Mudahnya masyarakat meluapkan ekspresi kebrutalannya dilatarbelakangi oleh tradisi atau budaya (kultur) bangsa Indonesia yang sering berperang.

Sosiolog Universitas Indonesia (UI) Devie Rahmawati menilai Indonesia memerlukan wasit di saat para pranata seperti polisi tidak mampu mencegah konflik.

“Wasitnya adalah negara, negara harus turun tangan. Presiden SBY dalam hal ini tidak salah, dia hanya mewarisi luka lama bangsa Indonesia sejak dahulu di era pemerintahan Soekarno hingga sekarang, seperti masalah ekonomi, kesenjangan pendapatan, yang hingga kini tidak selesai,” ujarnya kepada okezone, Kamis (30/9/2010).

Devie meminta seluruh pihak jangan hanya mampu menjadi pemadam kebakaran yang menyelesaikan masalah setelah bentrokan pecah. Sebab, kata Devie, bentrokan seharusnya dapat dicegah sebelum terjadinya konflik.

“Masyarakatnya tidak brutal, tapi ekspresinya, harusnya negara lewat intel dapat mencegah konflik, bukan hanya seperti pemadam,” tandasnya.
(news.okezone.com/hri)