Nama Sulis melejit setelah berduet bersama penyanyi religius Hadad Alwi dalam album CINTA RASUL. Sulis yang lahir di Solo, 23 Januari 1990 itu, berduet membawakan album-album sholawat nabi yang berhasil mengambil hati para penggemarnya. Namanya pun kini identik dengan lagu-lagu religi.

Gadis remaja dengan nama asli Sulistyowati ini mulai terjun ke dunia tarik suara sejak usia 9 tahun, waktu masih kelas 3 SD. Waktu itu, bungsu tiga bersaudara pasangan Sumadi dan Siti Satinem ini diajak Hadad Alwi untuk duet dalam album CINTA RASUL.

Sulis yang memang suka menyanyi sejak kecil ini telah menghasilkan 12 album, termasuk single dan kompilasi, sejak memulai debut di tahun 1999 sampai 2007. Pada album CINTA RASUL 2, Sulis bersama Hadad Alwi, dengan dibantu musisi Dwiki Dharmawan, merilis album orkesta. Proses rekaman album tersebut dilakukan di negeri Kanguru, Australia dan seperti album pertamanya, Sulis mendapat sambutan dari pengemarnya.

Beberapa album duet Sulis bersama Hadad Alwi adalah CINTA RASUL 1, CINTA RASUL 2, CINTA RASUL 3, CINTA RASUL 5, CINTA RASUL 6, CINTA RASUL 7, serta SULIS WITH ORCHESTRA.

Tak hanya duet, Sulis juga mencoba bersolo karier dengan mengeluarkan album CINTA RASUL 4 (2004). Pada tahun 2007, Sulis kembali muncul solo dengan konsep sedikit berbeda dari album sebelumnya. Album solonya yang kedua bertajuk YA ALLAH (2007). Tak seperti lazimnya lagu religi Islam lainnya yang diwarnai dengan musik gambus dan rebana, album ini menggantikannya dengan drum dan gitar bahkan lebih nge-beat.

Sejak masih kecil, sosok Sulis sudah dikenal memiliki suara yang bisa membuat hati adem. Suara merduanya memang paling pas mengisi lagu-lagu bernuansa religi. Dan bagi Sulis sendiri, menyanyi memang sudah jalannya sejak awal.

“Dari kecil, pertama kali berkarir seperti sudah diarahkan. Ini aku anggap sebagai jalannya, karena perasaannya nyaman, seneng banget. Semakin ke sini, berjalannya waktu semakin mantap untuk menggali dan mengembangkan apa yang aku dapat,” kata Sulis.

Dijumpai di Menara 165, Jl. TB Simatupang, Jakarta Selatan, Rabu (30/6) kemarin, Sulis mengaku menganggap menyanyi dan beribadah sama-sama asyik. Apalagi kalau beribadah juga dianggap sebagai hobi. “Kalau kita hidup dari situ adalah segalanya buat aku,” ujarnya.

Berbicara mengenai musik, Sulis menuturkan bahwa dirinya sempat diajak nge-rock bersama slank. Lagu yang dibawakan tetap islami yang dibalut kekuatan musik rock. Sayangnya, untuk albumnya sendiri ia masih belum ada program ke sana. Namun Sulis juga tidak menutup kemungkinan akan kesempatan itu.

Ditanya soal tawaran pindah jalur musik, gadis belia ini langsung menggeleng. “Belum sih. Aku orangnya idealis. Kalau misalkan ada, aku pengennya yang asli Indonesia. Misalnya melayu yang masih asli, atau dangdut, atau keroncong, ajak anak muda untuk bangga sebagai bangsa Indonesia,” terang penyuka lagu-lagu Rhoma Irama, Rita Sugiharto, dan Evie Tamala ini.

Tapi ditambahkannya, walaupun nantinya ia membawakan lagu dangdut, sikap dan pembawaan akan tetap sama. “Meski dangdut, kan aku nggak mungkin goyang,” sambung Sulis seraya tersenyum.

penyanyi yang sering menyanyikan lagu-lagu religi turut bermain bersama Wali Band dalam film BAIK-BAIK SAYANG. Dalam film ini ia berperan sebagai nurul, seorang santri di pesantren yang sama dengan para personel Wali.

“Saya peran jadi Nurul, Nurul merupakan salah satu santri di pesantren di tempat Faank dan temen-temen Wali nyantri. Ceritanya, Nurul dikerjain sama Faank dan temen-temen dengan ngirimin surat sampai akhirnya aku hukum karena ulah mereka,” ucap Sulis ketika ditemui di FX Sudirman, beberapa waktu lalu.

Sementara itu syuting film ini mengambil lokasi di pesantren La Tansa di Banten. Bagi Sulis ini baru pertama kalinya ia mengenal dunia pesantren dengan lebih dekat, dan begitu masuk timbullah keinginannya untuk menuntut ilmu di pesantren.

“Di Pesantren La Tansa di banten. Aku tuh baru tahu kehidupan pesantren setelah berperan di sini, malah jadi pengen mondok. Di sana itu pesantrennya modern banget, bahasa sehari-harinya aja bahasa Arab dan Inggris,” tutupnya.

(kapanlagi)