Belum lama ini terjadi kehebohan seputar isu penarikan atau pemberhentian pemutaran Film Asing terutama dari Hollywood di Indonesia.

Isu penghentian suply Film Asing ke Indonesia, tentu saja mencengangkan banyak pihak, terutama para pelaku film, pecinta sinema, hingga para pelaku yang bergelut di dunia layar lebar. Spontan isu ini melebar menjadi topik-topik perbincangan hangat di kalangan pemerhati film.

Budayawan sekaligus pemain film Sujiwo Tedjo, seperti dikutip inilah.com, menganggap penarikan film Hollywood merupakan kesewenang-wenangan fihak Amerika Serikat (AS). Padahal menurutnya, sekalipun pajak film naik, produsen film Hollywood tetap untung.
“Jadi menurut aku itu cuma kesewenang-wenangan pihak Amerika saja dan pasti mereka akan menang,” ujar Sujiwo Tedjo di Jakarta, Minggu (20/2/2011).

Namun melangkah maju dari amarah Sudjiwo Tedjo, fakta “menyakitkan” dari pecinta film di Indonesia mengundang silang sengketa di antara mereka. Mereka terjebak pada dominasi dua pendapat yang nyaris bertabrakan: antara yang mendukung dengan yang menolak, yang gembira dengan nestapa.

Kalangan yang mendukung pemberlakuan pemberhentian pasokan film asing melihat bahwa hal ini adalah peluang emas bagi perfilman Indonesia untuk dapat maju dengan pesat. Tidak hanya itu, mereka menganggap bahwa importir perfilman asing terlalu serakah karena berusaha untuk tidak menyetujui kenaikan pembebanan pajak yang nantinya akan diterapkan.

Berbeda pendapat dari kalangan kontra, fihak yang menolak memiliki argumen nyaris bertolak belakang. Pada dasarnya kubu yang melayangkan aksi penolakan terbagi pada dua tema. Pertama, mereka menolak karena berhentinya pasukan film asing ke Indonesia akan menandakan matinya kreatifitas sineas muda.

Mereka melihat bahwa sineas muda Indonesia berpeluang berada pada jurang stagnasi kreatifitas mengingat mereka kini tidak lagi memiliki informasi update tentang trend film dunia. Film Indonesia selama ini tidak juga memberikan warna baru yang bisa menandingi laju perkemangan film-film Holywood, kata mereka.

Sedangkan, aktris kawakan, Jajang C. Noer, dalam wawancaranya di Metro TV beberapa waktu lalu menyatakan tidak ada kaitannya antara pemberhentian film asing dengan majunya film Indonesia. Jajang ingin mendebat kalau tidak mau dibilang menunda optimisme sebab selama ini ia menilai tidak ada kaitan berarti antara melesatnya film Indonesia simetris dengan menjamurnya film Asing di bumi pertiwi.

Bahkan Norca Massardi, orang yang kita kenal aktif sebagai juri film, memiliki perspektif lain. Ia melihat pada konten lebih jauh pada laju perekenomian bioskop-bioskop di Indonesia.

“Bioskop 21 Cineplex punya sekitar 500 layarnya di Indonesia. Sebagai pihak yang diberi hak untuk menayangkan film impor akan kehilangan pasokan ratusan judul film setiap tahun. Itu layar akan menganggur, bahkan bisa ditutup kalau tidak ada yang bisa ditayangkan.” kata Noorca Masardi sebagai juru bicara 21 Cineplex, seperti dikutip seputarkita. Info, 19 Februari 201.

Pria yang lahir 56 tahun lalu ini, menyimpulkan bahwa penyelenggara bioskop adalah fihak yang akan dirugikan dari dampak pemberhentian pasokan film asing. Bioskop selama ini menjadi salah satu bagian dari pergerakan ekonomi nasional dalam bidang hiburan.

Sebagaimana diketahui, setiap kopi film impor yang masuk ke Indonesia, selama ini sudah dikenakan bea masuk+pph+ppn sebesar 23,75% dari nilai barang. Selain itu, selama ini, pemerintah melalui Ditjen Pajak dan Kemenkeu juga selalu menerima pembayaran pajak penghasilan 15% dari hasil eksploitasi setiap film impor yang diedarkan di Indonesia.

Seperti dikutip kompas.com 18 februari lalu, tindakan ekspor film diambil lantaran MPA (Motion Picture Association, yang berwenang melakukan peredaran film hollywood di Indonesia) merasa keberatan dengan peraturan pajak bea masuk atas hak distribusi film impor di Indonesia yang berlaku efektif bulan kemarin. MPA protes dan menilai produk mereka seharusnya bebas bea masuk impor.

Argumentasi MPA, kemudian dibantah Heri Kristiono selaku Direktur Teknis Kepabeanan. Seperti dikutip forum.kompas.com, 20 Februari, Heri Kristiono mengatakan bahwa pengenaan bea masuk bukan hal baru, melainkan aturan lama yang mengacu pada ratifikasi Artikel 7 kesepakatan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Menyambung daripada itu semua, Noorca berharap pemerintah bisa mempertimbangkan kembali ketentuan baru tersebut sehingga bisa terus memberikan ruang kepada publik untuk mendapatkan hak hiburan seluas-luasnya.

“Prihatin atas keputusan pihak asing yang tidak mau lagi mendistribusikan filmnya ke Indonesia, kami yang bergerak di bidang bioskop hanya bisa berharap dan berdoa semoga pihak MPA bisa kembali mendistribusikan film ke Indonesia,” lanjut Noorca Masardi.

Pertanyaannya kemudian adalah dimanakah posisi kita sebagai umat muslim melihat gejala ini? Apa sikap kita melihat tantangan global sudah ada depan mata kita? Saya berharap jawabannya adalah kita menolak film asing asing sekaligus juga tidak mendung asumsi bahwa ini adalah arus untuk memajukan film nasional.

Logikanya sederhana saja: betulkah Motion Picture Association yang bernaung di Amerika Serikat tidak mampu membayar pajak dari negara “kecil” seperti Indoseia. Masuk nalarkan Amerika yang selama ini terkenal melemparkan faham hedonisme dan hura-hura lewat film-filmnya merasa frutasi hanya karena pembiayaan pajak bea masuk+pph+ppn sebesar 23,75% dari nilai barang.

Atau jangan-jangan ini adalah bagian dari konspirasi, taktik, strategi mereka yang ingin melihat jutaan remaja Indonesia, dewasa, pemuda-pemuda muslim, dan wanita berjilbab turun ke jalanan mengemis agar Holywood kembali ke Indonesia. Semuanya ini mereka lakukan demi membuka mata kita semua: Siapakah raja dan tempat bergantung sesungguhnya masyarakat Indonesia selama ini?

Kita lupa siapakah Motion Picture Association. Kita lupa siapakah adikuasa sebenarnya di balik nama besar mereka, dan kita lupa apa misi mereka sesungguhnya. Motion Picture Association of America (MPAA) tidak lain adalah asosiasi zionis dalam kancah perdagangan nirlaba Amerika Serikat yang bertujuan memajukan kepentingan bisnis lewat studio film.

Ia didirikan pada tahun 1922 sebagai asosiasi perdagangan untuk industri film Amerika. Sementara itu, Motion Picture Export Association of America (Asosiasi Ekspor film Amerika, disingkat MPA) dibentuk tahun 1945 untuk memajukan pemasaran film Amerika di seluruh dunia, dan membuka proteksi impor di berbagai negara terhadap film Amerika Serikat.

Anggota MPAA sendiri terdiri dari enam studio besar Hollywood yang terkait erat dengan Jaringan Yahudi Internasional dalam kancah perfilman diantaranya: The Walt Disney Company, Sony Pictures, Paramount Pictures (Viacom—DreamWorks), 20th Century Fox (News Corporation, Universal Studios (NBC Universal, dan Warner Bros. (Time Warner).

Oleh karena itu kita sebagai umat musli tidak boleh alpa terhadap yang dikatakan Samuel Zweimmer, Ketua Umum Asosiasi Agen Yahudi pada sambutan pembukaan Konferensi Yerusalem di tahun 1935 jauh sebelum invasi perfilman zionisme melanglang buana ke seluruh dunia, khususnya Indonesia.

Bayangkan mereka sudah merancang bagaimana faham-faham zionis akan disebarkan ke berbagai mancanegara melalui media apapun. Ketika kita tidur, ketika kita belajar, ketika kita beraktifitas, mereka secara rapih memasang ancang-ancang bagaimana suatu saat kelak masyarakat muslim akan jauh dari agamanya, dan bertekuk lutut didepan wajah mereka, tanpa kita sadari.

“Yang perlu saudara-saudara perhatikan adalah bahwa tujuan misi yang telah diperjuangkan bangsa Yahudi dengan mengirim saudara-saudara ke negeri-negeri Islam, bukanlah untuk mengharapkan kaum muslim beralih ke agama Yahudi atau Kristen. Bukan itu. Tetapi tugasmu adalah mengeluarkan mereka dari islam, menjauhkan mereka dari islam, dan tidak berpikir mempertahankan agamanya. Di samping itu saudara-saudara harus menjadikan mereka jauh dari keluhuran budi, jauh dari watak yang baik… Saudara-saudara patut mengetahui bahwa para tetua kita sangat gembira dengan segala apa yang telah saudara-saudara hasilkan. Oleh sebab itu, lanjutkanlah perjuanganmu demi risalah agamamu. Semoga saudara-saudara semua mendapat berkat dari Tuhan kita, Elohim, Allah yang Maha Suci dan Maha Agung. Lanjutkanlah perjuangan ini hingga dunia benar-benar terberkati.”

Dan keniscayaan pidato itu sekarang ada di depan mata kita. Tidak usah jauh-jauh: Di Layar Kaca Perfilman Indonesia.

Di depan mata anak-anak kita yang mengantri tiket untuk menonton film Indonesia dan Amerika tapi mensisipkan faham kabbalah, theosofi, hingga ateisme.

Semuanya dikemas secara menghibur, dan diam-diam menikam Islam. Selamat Datang di dunia konspirasi kawan.

Yahudi memang memiliki banyak cara menjauhkan umat Islam dari agamanya. Kita dahulu masih melihat film-film Indonesia mengobral cinta utopis belaka. Namun seiring trend dan laju liberalisme yang pesat, tengoklah kita bisa menyaksikan deretan film-film yang menyudutkan Islam tanpa melihat akar persoalan. Dan tak jarang cover film-film ini dipenuhi deretan award dari kontes Film Internasional.

Melecehkan Islam

Film “3 Doa 3 Cinta” (2008), misalnya, film besutan Nurman Hakim ini meraih penghargaan Grand Prize of the International Jury pada International Festival of Asian Cinema Vesoul, Perancis. Menurut Nurman Hakim dan Nan Achnas, salah satu juri dari India yang trauma terhadap kejadian penyanderaan di Mumbai mengucapkan terima kasih atas film tersebut karena mengingatkan pentingnya menjaga kerukunan dan saling menghormati keyakinan yang berbeda.

Padahal film ini begitu menyudutkan pesantren. Dikisahkan salah seorang pengajar di pesantren melakukan homoseksual dengan santrinya. Tidak hanya itu, ada pula adegan ciuman serta prilaku tak senonoh seorang santri saat mengintip tubuh anak perempuan sang kyai.

Terakhir, Nurman Hakim malah membesut Film terbarunya Khalifa (2010). Film ini menurut pengamatan penulis tidak imbang menjelaskan konteks poligami dan seakan menggring bahwa wanita bercadar bersuamikan teroris. Padahal banyak pula wanita bercadar di Indonesia tidak menyetujui tindak terorisme.

Pluralisme Agama

Walhasil media menyudutkan Islam melalui media layar lebar bisa beragam cara. Invasi media liberalisme sangat terasa setelah Film Perempuan Berkalung Sorban (PBS) melayangkan kontroversi. Akan tetapi, Hanung Bramantyo, sang sutradara, tak lama lagi akan melahirkan film yang lebih heboh dari PBS. Sebuah film dengan gambar besar kalimat tanda tanya dilanjutkan dengan ungkapan “Masih Pentingkah Kita Berbeda” akan rilis di Bioskop-bioskop Indonesia mulai 7 April 2011 ini.

Dari tampilan gambar yang disajikan dalam trailernya, tampak sebuah gereja, masjid, dan kelenteng bergantian hadir. Namun dibalik tampilan tempat ibadah berbagai agama itu ada ucapan yang nantinya kita akan faham bahwa mau dibawa kemana arah film ini. Simaklah, bait yang dilontarkan oleh seorang aktor tersebut berikut ini:

“Manusia tidak hidup sendirian di dunia ini.
Dia memilih jalan setapak masing-masing.
Semua jalan setapak itu berbeda-beda,
namun menuju satu jalan yang sama
dan satu tujuan yang sama yaitu Tuhan.”

Menariknya, narasi itu dihembuskan berbarengan dengan adegan seorang wanita Kristiani beribadah di gereja, pemuda ketika tengah mengaji, lalu disambut seorang ibu yang tengah melaksanakan ritual di Klenteng. Ketika kita sambung adegan ini bersamaan dengan kalimat: Semua jalan setapak itu berbeda-beda, namun menuju satu jalan yang sama, dan satu tujuan yang sama yaitu Tuhan, jelas apa pesan yang diinginkan oleh Hanung Bramantyo: Kesatuan agama-agama. Sebuah mitos dari Kabbalah Yahudi untuk menciptakan kedamaian dunia yang kini berubah nama beken seperti Pluralisme Agama, Multikulturalisme, hingga Inklusivisme. Padahal gagasan PAGANIS (Pluralisme, Multikulturalisme, dan Inklusivisme) tak lain adalah upaya melenyapkan agama-agama menuju satu agama saja, yakni Yahudi. Ini termaktub dalam protocol of zion ke 14.

Diupayakan di dunia ini hanya satu agama, yaitu agama Yahudi. Oleh karena itu segala keyakinan lainnya harus dikikis habis. Kalau dilihat di masa kini, banyak orang yang menyimpang dari agama. Pada hakekatnya kondisi seperti itulah yang menguntungkan yahudi.

Gagasan pluralisme jua menjadi trademark Film My Name Is Khan. Film ini rilis tahun 2010 lalu dibawah perusahaan Yahudi Fox Search Light. Menariknya kendati film ini dirilis oleh perusahaan Yahudi, banyak umat muslim terpukau atas aksi Shahrukh Khan.

Film yang banyak dibintangi aktris papan atas India ini dikatakan sebagai sebuah film yang patut diapresiasi oleh umat muslim karena menceritakan seorang mukmin sejati yang memperjuangkan nasibnya di Amerika. Perlakuan diskriminasi, marjinalisasi dan intimidasi penduduk Amerika terhadap muslim pendatang pasca tragedi 11 September disebut-sebut menginspirasi sang sutradara, Karan Johar, untuk membuka mata dunia.

Pertanyaannya adalah betulkah Film My Name Is Khan ditujukan untuk membangkitakan rasa persaudaraan dan simpati terhadap umat muslim atau ini hanya sebuah alih-alih dari misi sesungguhnya, yakni doktrinasi pemahaman Pluralisme Agama? Apakah kita yakin, Fox Search Light yang notabene adalah jaringan bisnis Zionis dalam dunia hiburan memiliki niat tulus untuk mensyiarkan agama Islam di muka bumi? Dan masuk logikakah Zionis yang selama ini justru tertawa melihat umat Islam tersudut dalam tragedi 9/11, bangkit lalu menyatakan penyesalannya dan menggantikan penyesalan itu dengan menelurkan film ini? Mari kita cermati baik-baik.

Dalam Film berdurasi 160 menit itu, Khan kecil, digambarkan hidup dalam situasi penuh konflik antara agama Islam dan Hindu. Saat itu ia mendengar sekelompok umat muslim tengah marah, dengan mengatakan, “musnahkan dan hancurkan….”. Mendengar suara-suara penuh amarah itu, Khan kecil selalu mengulangnya sampai tiba di rumah.

Ibu Khan sangat kaget dan melarang Khan berbicara seperti itu. Maka sang Bunda memberikan pelajaran yang akan mengubah seluruh jalan hidup Khan selanjutnya, dengan mengatakan kepada Khan kecil, “Di dunia ini hanya ada dua perbedaan, yaitu kebaikan dan kejahatan. Baik, manakala seseorang berbuat kebaikan, dan Jahat manakala seseorang berbuat kejahatan, jadi tidak ada Muslim dan Hindu”.

Jika kita tidak cermat membacanya, Film ini bisa merusak aqidah dan mengantarkan penonton pada kesimpulan bahwa standar kebaikan dan keburukan terletak pada nilai-nilai kemanusiaan. Akhirnya dengung ini sekarang menggema di seantero dunia lewat ungkapan: lebih baik menjadi humanis daripada relijius tapi jahat. Lebih baik tak bertuhan, daripada beragama tapi tak manusiawi.

Hamid Fahmi Zarkasy, dalam tulisannya Religius-Humanis, mengatakan bahwa di Barat memang telah terjadi perubahan orientasi masyarakat dari teosentris (Tuhan sebagai pusat) menjadi anthroposentris (manusia sebagai pusat). Dengan doktrin empirisisme, Tuhan dianggap tidak riel, sedangkan manusia begitu riel dan kasat mata. Membela Tuhan, mementingkan Tuhan, menghormati Tuhan atau mensucikan Tuhan dianggap sia-sia dan tidak ada gunanya. Sebab dalil orang-orang Humanis persis dengan para pengusung PAGANIS: “Tuhan tidak perlu dibela karena sudah Maha Kuasa”.

Selain film Tanda Tanya, sebelumnya nuansa pluralisme agama juga hadir dalam film “3 Hati, Dua Dunia, Satu Cinta.” Lewat Film yang disutradari Benni Setiawan ini, dikisahkan jalinan cinta antara Rosid dan Delia terjadi kala mereka masih menjadi mahasiswa di sebuah kampus. Ketertarikan antara Rosid dan Delia bermula dari karakter yang dimiliki masing-masing. Rosid adalah pemuda nyentrik dengan rambut kribo yang ingin menjadi penyair. Sedangkan Delia adalah pemudi manis dan cenderung pendiam yang kepincut dengan syair-syair Rosid.

Namun cerita cinta keduanya terhalang jurang yang tidak bisa mereka lalui. Mereka berbeda agama. Rosid berasal dari keluarga Arab-Betawi Muslim yang kuat memegang kuat tradisi. Dan dalam diri Delia mengalir darah Manado yang Katolik. Cerita makin dramatis ketika orang tua mereka tidak menyetujui jalinan cinta terlarang itu. Namun perbedaan itu tidak menghalangi mereka untuk melanggengkan cinta diantara keduanya.

Jadi di film ini, bahwa agama memang sudah tidak lagi menjadi persoalan penting dan prioritas dalam mengarungi bahtera rumah tangga seperti kata Madame Balavatsky, pengusung theosofi, bisa jadi betul. Sebab Agama sudah tidak dianggap relevan sebagai sebuah prinsip, apalagi prinsip cinta. Padahal Allah jelas memberi tuntunan bagi kita dalam memilih pasangan yang baik.

Firman Allah SWT (yang artinya): “Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.” (QS. Al-Baqarah [2] : 221)

“Kafir di Bioskop”

Makar zionis yang melalaikan umat Islam lewat film-film Holywood, ternyata kini berada di atas angin. Sebab saat ini, mereka tidak usah pusing-pusing mengobrak-abrik Islam lewat tangan mereka sendiri. Saya jadi teringat ucapan Nirwan Syafrin, Ustadz muda lulusan Malaysia yang kini aktif membendung faham liberalisme Islam di Indonesia. Ia pernah berujar, “Dulu kita masih kafir dengan dibiayai (beasiswa) mereka, sekarang kita kafir dengan biaya sendiri”. Saya lantas termenung dan bergumam dalam hati, “Bahkan kita dikafirkan masal dalam sebuah gedung bioskop.” Ironis.

“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra’ [17] : 36).

Pornografi and Undermind Control
Eksodus film-film tak seronok juga patut kita cermati. Kalau anda melihat film-film asing, hampir di setiap penayangannya menyisipkan dua hal: kalau tidak adegan ranjang pasti ada kecupan. Dulu kita mengenal film Basic Instinct, di Indonesia muncul Jacarta Undercover. Dulu ada film Scary Movie, di Indonesia Tukang Jamu Gendong berubah menjadi hantu cabul. Di Amerika ada film Setan berpakaian rok mini. Di Indonesia? Tidak usah saya sebut namanya, hampir berjumlah ratusan. Selain judulnya menggelikan, semakin menambah rasa malu kita sebagai umat.

Dan kita bisa lihat dari mulai adegan cium saja, kini film Indonesia ikut-ikutan mengadopsi. Sebut saja film 18+, Virgin, bahkan di film Cokelat Stroberi, laki-laki sesama laki-laki berciuman. Dalihnya trademark.

Pertanyaannya kemudian adalah kenapa pornografi yang dipilih? Karena zionis tahu betul efek pornografi memiliki tingkatan yang lebih mengkhawatirkan ketimbang narkoba. Bayangkan dampak dari pornografi bisa menimbulkan visualisasi tayangan ke dalam otak anak dalam jangka waktu sangat lama.

Otak adalah satu-satunya sistem yang kuat mengakomodir optimalisasi imaji anak yang melekat dalam jangka cukup panjang dan mendalam. Ekses dari hal ini adalah bahwa otak manusia akan berada di bawah kontrol yang mampu menghancurkan konsentrasi. Seorang pecandu pornografi minimal mesti mengikuti program rehabilitasi minimal 18 bulan.

Dalam seminar mengenai dampak pornografi terhadap kerusakan otak di Jakarta 2/3/2009, ahli bedah syaraf dari Rumah Sakit San Antonio, Amerika Serikat, Donald L. Hilton Jr, MD pernah mengatakan bahwa adiksi (kecanduan) mengakibatkan otak bagian tengah depan yang disebut Ventral Tegmental Area (VTA) secara fisik mengecil. Adiksi apa kemudian yang mengkhawatirkan? Adiksi pornografi. Pornografi, lanjut Donald Hilton, mampu menciptakan perubahan konstan pada neorotransmiter dan melemahkan fungsi kontrol.

Rupanya, ini yang membuat orang-orang yang sudah kecanduan tidak bisa lagi mengontrol perilakunya. Kondisi itu, tidak terjadi secara cepat dalam waktu singkat namun melalui beberapa tahap yakni kecanduan dengan ditandai dengan tindakan sederetan tingkah impulsif, ekskalasi kecanduan, desensitisasi dan akhirnya penurunan perilaku.

Apakah pornografi yang dimaksud hanya berlaku pada film full porno? Sayangnya tidak! Gambaran, adegan, kisah dalam film-film bioskop Indonesia yang menampilkan atris-artis berpakaian mini, komedi seksi, juga turut mempengaruhi fungsi mendalam dari otak manusia.

Menurut Kepala Pusat Inteligensia Departemen Kesehatan, dr Jofizal Jannis, menyatakan bahwa sistem otak bersifat adaptif dan fleksibel. Inilah kecanggihan otak. Ia mampu menerima info positif dan negatif yang pada akhirnya menjadi manifestasi pada pembentukan perilaku dan karakteristik seseorang.

Kondisi inilah yang memang merupakan salah satu taktik zionis. Mereka ingin bahwa remaja Indonesia secara pemikiran sudah dibawah kontrol. Undermind control itulah yang menemukan caranya melalui pornografi. Film berubah menjadi sebuah tayangan kepada transfer ideologi. Dari sobekan tikek menjadi inflitrasi. Pornografi bukan sekedar hiburan, pornografi adalah nilai.

Makanya itu tak heran kita melihat bagaimana LSM-LSM asing sangat bergelora jika sudah bicara memberi dukungan terhadap invasi film porno dengan dalih Hak Asasi Manusia dan kebebasan berekspresi.

Film Porno Berbaju Hak Perempuan
Berkaca daripada itu, minimal ada dua film bergenre mesum-ideologis yang menwarnai hingar bingar dalam pentas perfilman Indonesia modern. Pertama sebuah film berjudul “Mereka Bilang Saya Monyet”. Film ini, film posmo. Berangkat dari Novel karangan Djenar Maesa Ayu, aktris kondang yang tak lain kerap menelurkan kisah beraroma feminisme dan seronok. Novel ini ingin mendebat arti moralitas sesungguhnya.

Karenanya, alih-alih ingin mengangkat hak perempuan, film ini justru banyak menampilkan adegan tidak senonoh. Sekalipun demikian, entah alasan apa yang membuat Lembaga Sensor Film justru meloloskan film ini, bahkan film yang dirilis desember 2007 tersebut menerima tujuh nominasi sekaligus pada ajang Festival Film Indonesia 2008. Empat diantaranya berhasil memenangkan berbagai kategori yang ditawarkan, termasuk Aktris Terbaik untuk Titi Sjuman.

Selain itu, film dengan bungkus feminisme namun bermaterikan pornografi juga diangkat lewat Film “Perempuan Punya Cerita”. Sebenarnya film yang diproduksi Kalyana Shira ini merupakan kumpulan 4 film pendek tentang perempuan Indonesia dari segala umur dan kehidupan. Tentunya, dengan mengambil angle sebuah kisah penindasan perempuan, film ini menggiurkan bagi aktifis feminis untuk mengangkat hak-hak perempuan.

Film berjudul Cerita dari Jogjakarta, misalnya. Alih-alih memberikan pelajaran bagi remaja, film ini justru mempertontonkan seorang siswi diperebutkan dan dihamili oleh empat remaja sekaligus. Dan menariknya untuk menentukan siapa yang harus bertanggung jawab, nasib sang perempuan dipertaruhkan hanya lewat sebuah undian. Naudzubillah.

Kalau sudah begini, logikanya ia hanya menampilkan fakta sekaligus menampilkan blunder. Dalam Islam, fakta porno, tidak boleh ditampilkan, apalagi mau dijadikan keteladanan.

Kiprah Zionis Dalam Memberi Dukungan
Pendanaan film-film seksualitas sebenarnya tidak dilakukan oleh bangsa sendiri. Minimal ada back up dari dana asing untuk menyuburkan film-film tersebut. Kasus ini terjadi pada pegelaran Q! Film Festival, sebuah tragedi bernama festival film homo yang pertama kali terjadi di Negara mayoritas muslim ini. Terakhir, acara ini dilaksanakan pada tanggal 24 september 2010.

Bahkan, jika anda masuk ke website Q Film Festival http://www.q-munity.org, anda akan langsung terkejut karena festival ini rupanya sudah berlangsung sembilan tahun di Jakarta. Sampai-sampai menurut salah satu harian, Festival ini menjadi bagian dari bianglala kehidupan urban Jakarta sekaligus sebagai aset penting agenda kesenian yang seharusnya menjadi kebanggaan Ibu Kota.

Acara Q! Film Festival pada tahun 2010 yang terlaksana di Goethe Institut Jakarta, sempat dikecam oleh Front Pembela Islam (FPI). FPI mengatakan bahwa penyelenggaraan festival ini meresahkan masyarakat yang notabene mayoritas muslim. FPI kemudian melayangkan gugatan dan hendak membubarkan pergelaran mesum tersebut jika tidak dihentikan.

Namun rupanya, meski mendapat protes keras dan ancaman pembubaran, panitia acara festival film Q tetap tak bergeming. Mereka bersikeras melanjutkan kegiatan sesuai jadwal kendati kecaman datang dari berbagai pihak. Bahkan, Komnas Perempuan melalui rilisnya menyatakan bahwa tudingan FPI justru salah alamat.

“Acara ini tidak ada hubungannya dengan moralitas. Demi kepentingan kehidupan bernegara yang menjujung tinggi hukum, HAM, dan Demokrasi, Komnas Perempuan menghimbau agar setiap pihak membuka ruang dialog yang santun dan beradab” ungkap mereka.

Uniknya, dukungan terhadap acara tersebut tidak saja menjadi monopoli Komnas Perempuan. Tercatat sederetan lembaga pembela hak-hak atas nama perempuan dan kebebasan berekspresi bersuara lantang ikut melontarkan pernyataan sikap. Mereka menekankan kalau Q! Film Festival merupakan festival seni yang menyajikan informasi dan karya seni tentang fenomena keberagaman manusia.

Jadi tidak ada hubungannya dengan moralitas. Kesamaan visi dan tujuan itulah yang mengantarkan mereka merapatkan barisan membela Festival Film thoghut itu dalam wadah bernama Q-Community. Dari sekian Lembaga-lembaga itu tercatat nama-nama seperti Goethe-Institut, Centre Culturel Francais, Erasmus Huis, Dewan Kesenian Jakarta (Kineforum), Subtitles, KONTRAS, Arus Pelangi, Gaya Nusantara, Komnas HAM, Komnas Perempuan, Jurnal Perempuan, Kartini Asia Network, Perempuan Mahardika, Institut Ungu, Ardhanary Institute, Institut Pelangi Perempuan, GWL –INA, Institute for Defense Security and Peace Studies (IDSPS), Ratna Sarumpaet Crisis Center, Human Rights of New York dan Berlin Film Festival.

Dari sini kita bisa melihat sederetan lembaga asing dalam mendukung pelaksanaan Q! Film Festival. Kiprah institusi tersebut menjadi motor penggerak acara berskala internasional ini, baik dalam bidang pendanaan, promosi, sampai pembelaan. Sutradara Festival, John Badalu, sendiri mengakui kalau pendanaan festival film ini berasal dari kelompok-kelompok asing.

”Pendanaan festival film ini berasal dari kelompok-kelompok asing. Kami memutar film di pusat-pusat asing. Kelompok radikal tidak akan berani menyerang kita. Jika mereka melakukannya, ini sama saja menyerang negara asing,” ujarnya.

Peran LSM-LSM atau Yayasan Internasional untuk menggalang karya-karya Film anak bangsa memang bukan barang baru. Film Perempuan Berkalung Sorban yang dirilis Januari 2009 adalah satu kasus tertentu. Film yang hadir lewat garapan sutradara Hanung Bramantyo ini bahkan sudah didanai oleh Ford Foundation sejak masih berwujud novel.

Ford Foundation memang terkenal gencar merekrut anak-anak muda kreatif Indonesia. Para sineas muda yang ingin mengangkat film-film seputar seksualitas, keseteraan gender, kearifan lokal, dan lain sebagainya akan diberikan suntikan dana segar dalam proses pembuatannya.

Namun, kendati tetap berkilah mereka mengaku sebagai organisasi Nirlaba, namun Ford Foundation memliki aset yang cukup menggiurkan. Menurut Wikipedia, cadangan devisa lembaga yang berpusat di New York ini mencapai US$ 13.7 dan US$ 530 juta diantaranya dalam bentuk hibah. Dari sinilah kemudian mereka menyebarkan misinya melalui proyek film-film sarat ideologis kufar ke berbagai negara.

Selain membiayai Film PBS, Perempuan Punya Cerita, Lembaga mantel zionis ini juga membiayai film pembelaan terhadap hak waria berjudul Working Girls (Perempuan Pencari Nafkah). Dalam salah satu segmen dalam film ini berjudul Ulfie Pulang Kampung. Bercerita tentang perjalanan seorang waria dalam dua kehidupan, kisah ini ingin membawa penonton melihat waria dan pengidap AIDS dari perspektif berbeda. Karena itu tak heran, bukan mengajak sang waria untuk bertaubat, film arahan Daud Sumolang dan Nitta Nazyra C. Noer ini malah mempopulerkan penggunaan kondom agar para waria terhindar dari penyakit AIDS.

Ford Foundation sebenarnya tidak bekerja sendiri di Indonesia, dalam mengkampanyekan isu feminisme, kesetaraan gender, hingga homoseksualitas. Tercatat organisasi yang kini dipimpin bekerjasama dengan Human Rights Watch New York.

Human Rights Watch of New York sendiri adalah salah satu lembaga humanisme sekular yang berpusat di New York. Salah satu rekam jejaknya erlihat saat mereka demikian gigih dalam membela pergelaran Q! Film Festival di Indonesia, termasuk juga ketika membela Ahmadiyah baru-baru ini.

Tantangan Bagi Umat Muslim
Dengan gejala ini, umat muslim harus waspada. Konspirasi kaum zionis dalam dunia perfilman mesti disikapi dengan bagaimana setiap umat membentengi keluarga dengan akidah dan tauhid yang lurus. Terbukti film memakai label Islam pun tidak juga bertujuan untuk syiar dakwah.

Tentu ini bukan berarti kita tidak boleh berkreasi. Islam menghargai kreativitas manusia, namun kita juga jangan pernah lupa bahwa ada kaedah-kaedah syar’i yang harus menjadi dasar tiap manusia menelurkan gagasannya. Terlebih saat ini sistem Dajjal sedang berdiri membangun kekuatannya melalui invasi perfilman dunia.

Semoga kita selalu diberikan penerangan oleh Allah untuk bisa mengendus misi mereka, walau mereka berdalih: “ini film Islam kok, kebebasan berekspresi kok, demi toleransi umat beragama kok”.

Ya Allah lindungilah keluarga kami dari fitnah akhir zaman. Dimana sesuatu yang baik dikatakan buruk, dan keburukan dilapisi dengan dalih kebenaran. Ya Rabb hanya kepadaMu lah kami bergantung. Hanya kepadaMu lah kami memohon ampun dan pertolongan.
Wallahua’lam bishshawab.

(ERAMUSLIM.COM)