SMK, Pilihan Realistis bagi Orang Tua

Pendidikan menengah kejuruan makin menggeliat dan menunjukkan keberadaannya sebagai pembimbing generasi muda yang siap kerja dan berani berkompetisi. Bahkan, tak jarang alumni SMK membuka lapangan kerja sendiri. Pola pikir orang tua dalam memilih jalur pendidikan bagi anak-anaknya turut menentukan.



Pembimbing Lomba Keterampilan Siswa (LKS) SMK Negeri 10 Medan, S Sebayang, mengingatkan agar para orangtua siswa harus bisa berfikir realistis dengan mengambil sikap agar menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah kejuruan.
“Sebab, sekolah kejuruan menempa bakat dan keterampilan siswa untuk bisa mandiri dan menciptakan lapangan kerja sendiri bila sudah lulus sekolah,” ujarnya. Apalagi, sambungnya, para lulusan alumni sudah banyak berhasil menciptakan lapangan kerja sendiri dengan membuka salon kecantikan, usaha menjahit dan banyak lagi.
“Tidak saatnya lagi mencari lowongan kerja di zaman sekarang yang begitu besar persaingannya. Kinilah saatnya menciptakan lapangan kerja sendiri dengan membekali diri melalui keterampilan,” tuturnya di sela-sela acara bazar dan pameran kreativitas siswa SMK Negeri 10 Medan Kamis (10/6).

Antusias
Berbagai hasil karya dan kreativitas mereka yang dipamerkan di gedung sekolah itu di Jalan Cik Diktiro dan disambut antusias para alumni SMK Negeri 10 Medan, orangtua siswa dan masyarakat umum. Hasil karya yang dipamerkan mulai busana, kecantikan, tata boga, multi media serta unjuk kebolehan musik (band), teater, tari dan lainnya. Untuk busana yang dipamerkan, mulai dari busana pesta, busana kerja, kebaya yang semuanya dipajang di luar gedung sekolah.
Hal yang sama dilakukan para siswa jurusan multimedia dengan memamerkan hasil karya yang berhubungan dengan multimedia, seperti kaset CD berisi film pendek dan lainnya yang dipajang di lorong pintu masuk sekolah.
“Tujuan dari kegiatan bazaar tersebut untuk menempah para siswa SMK Negeri 10 Medan agar bisa mandiri setelah lulus sekolah karena sudah memiliki bekal keterampilan yang diajarkan dari sekolah,” ujar Sebayang seperti dikutip situs hariansumutpos.com.
Selama ini, SMK Negeri 10 Medan mampu bersaing di tingkat nasional karena beberapa kali menang dalam perlombaan. Di antaranya, pemenang nasional lomba kecantikan pelajar se-Indonesia yang diselenggarakan di Yogyakarta pada tahun 2007 silam dan juara yang sama juga berhasil diraih pada perlombaan yang dilangsungkan di Bali pada tahun 2009. Sedangakan siswa tataboga, berhasil meraih juara 3 tingkat nasional di Bali. *Nur Iman
Keterangan Foto:
Pembeli memilih asesoris yang dijual di bazar SMK Negeri 10 Medan. Selain bazar juga ada kegiatan salon.
Fotografer: Laila/Sumut Pos

 

40 SMA Diubah Jadi SMK

JAKARTA- Direktur Pembinaan SMK Kementerian Pendidikan Nasional, Joko Sutrisno, mengungkapkan, konsekuensi dari peningkatan jumlah siswa SMK antara lain adalah penambahan ruang kelas atau sekolah dan penambahan tenaga pendidik, serta konversi SMA ke SMK.
Joko menjelaskan, konversi SMA ke SMK ditempuh karena SMA sedikit peminatnya sehingga harus diubah statusnya menjadi SMK. Saat ini, di Indonesia terdapat 40 SMA dalam proses berubah menjadi SMK.


Program keahlian yang disediakan SMK itu antara lain bisnis dan manajemen, dan teknologi informasi. “Pengadaan program keahlian ini karena biayanya lebih dan peralatan praktiknya sudah tersedia,” kata Joko di Jakarta, Rabu (16/6/2010).
Sementara itu, penambahan 5.000 tenaga pendidik bukan hanya dari lembaga pendidikan, tetapi juga nonpendidik seperti profesional dan mahasiswa yang melakukan praktik kerja selama 6 bulan. Selain itu, guru SMK juga bukan dari disiplin SMK, tapi dari ilmu murni yang kemudian dilatih menjadi tenaga pendidik.
Diberitakan sebelumnya, calon siswa sekolah menengah kejuruan negeri (SMKN) di Jakarta tahun 2010 ini meningkat sekitar 360 orang. Hal itu terjadi karena sejumlah SMKN menambah program keahlian di antaranya teknologi informasi. Tahun ini, jumlah siswa SMK diperkirakan oleh Joko mencapai 1,5 juta siswa. (Warkot/tan)
Sumber: KOMPAS, Kamis, 17 Juni 2010

Keterangan foto:
Siswa SMK Negeri Rota Bayat, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, praktik membuat keramik di sekolah tersebut, Kamis (17/12). Sekolah yang dibangun penyandang dana Reach Out To Asia (ROTA), sebuah LSM di Qatar, fokus terhadap pengembangan dua potensi di Bayat, yaitu batik dan keramik.
Fotografer: HERU SRI KUMORO/KOMPAS