Merindukan TPQ di Raja Ampat Papua (Kisah Kafilah Da’wah)



Di sudut kota Jakarta, Musa sedang bersiap-siap mengikuti kegiatan TPQ (Taman Pendidikan al-Qur’an). Sudah menjadi kebiasaan di sore hari bagi Musa, 6 tahun, belajar membaca baca-tulis al-Qur’an di TPQ An-Nur, tempat yang dipilihkan kedua orangtuanya. Selain lokasinya bisa dijangkau dengan ojek, fasilitas yang dimiliki TPQ ini bisa dibilang cukup memadai. Musa sangat senang di sana karena ada areal bermain, bahkan ia juga bisa belajar melalui audio visual bersama teman-temannya.

Musa sangat menikmati aktivitas sore harinya. Baginya, belajar di TPQ An-Nur sangat menyenangkan karena guru-guru yang mengajar sangat ramah dan memiliki kemampuan bagaimana cara menghadapi anak-anak seusianya. Apalagi, satu orang guru ‘melayani’ 6 orang siswa dengan berbagai macam karakter yang dimilikinya. Maka, meskipun ia harus merelakan waktu bermainnya di sore hari selama 3 hari, Senin, Rabu, Jum’at, Musa tidak merasa ‘terbebani’. Kisah Thariq bin Ziyad, Sang Penakluk Kota Konstantinopel-Spanyol menjadi favoritnya di ruang belajar audio visual. Namun terkadang beberapa kegiatan musa sering terganggu karena kedatangan beberapa tamu yang sekedar ingin memberi perhatian pada TPQ yang telah bagus ini. Itulah keuntungan TPQ An-Nur yang berada di kota besar, banyak yang ingin memberikan perhatian berlebih.
Lain halnya dengan Ali, 8 tahun, salah satu anak pribumi yang ada di Kepulauan Raja Ampat, Papua, pulau paling ujung dari Indonesia. Ali juga belajar baca tulis al-Qur’an meski dibilang terlambat diusianya. Untuk mencapai lokasi belajar baca tulis al-Qur’an, Ali harus berjuang karena lokasinya terletak di pulau sebelah. Jadi untuk mencapai tempat tersebut, setiap selesai Jum’atan Ali harus menumpang perahu ke sana.
Ali, dan juga beberapa teman dari kampungnya, sangat menikmati rutinitas di hari Jum’at itu. Mereka tetaplah anak-anak yang selalu memandang dunia dalam sisi positifnya. Bagi Ali, mengunjungi ustadz Ammar merupakan salah satu aktivitas yang menyenangkan. Karena selain ia bisa bertemu dengan kawan-kawan seberang pulaunya, ia pun dapat bermain, berenang dan menghabiskan sore di pulau yang terkenal akan keindahan alam dan bawah lautnya.
Sang ustadz yang biasa disapa dengan ustadz Ammar adalah seorang da’i yang dikirim oleh salah satu organisasi Islam di Jakarta. Ia telah menetap selama 15 tahun di Kepulauan Raja Ampat. Selama itu, kesempatan pulang kampungnya di Jawa hanya dilakukan satu kali, yaitu ketika ia menikah. Ia pun akhirnya memboyong sang istri ke Papua untuk menemaninya berda’wah. Kehidupannya sangat sederhana. Di samping lokasi Mushalla yang dibangun dari hasil wakaf, ia mendirikan rumah kecil untuk keluarganya. Uang yang didapatnya pun sangat kecil, bahkan nyaris tidak ada. Akhirnya, untuk menghidupi keluarganya yang berjumlah 7 orang, ia membuka lahan perkebunan di atas sisa tanah wakaf.
Dengan keterbatasan inilah ustadz Ammar ‘bertugas’ membina penduduk lokal, khususnya anak-anak Kepulauan Raja Ampat. Tentu tidak banyak yang dapat diharapkan, ustadz Ammar melakukan program tersebut hanya dengan waktu sisa karena beban keluarga telah menyibukannya. Jumlah 44% anak-anak dari keseluruhan penduduk Raja Ampat terasa kurang beruntung, jangankan perhatian dari pihak lain seperti yang dialami Musa, sekedar perhatian dari seorang ustadz saja pun ikut terbatas. Dengan komposisi 40% penduduknya muslim, semestinya kebutuhan untuk mengentaskan buta huruf al-Qur’an sangatlah besar. Namun sayang, program pendidikan baca-tulis al-Qur’an pun berjalan seadanya, tanpa perhatian.
Meskipun demikian, Ali dan teman-temannya tetap mendatangi ustadz Ammar. Dari ustadz Ammar-lah Ali belajar mengenal huruf hijaiyyah, menghapal surat-surat pendek al-Qur’an, dan mendengar kisah-kisah Islam. Ali dan teman-temannya tidak menggunakan fasilitas audio visual, sang ustadz sendiri yang membacakan buku, meskipun seringkali ia harus mengarang akhir dari ceritanya karena beberapa halaman dari bukunya sudah robek. Ustadz Ammar punya kiat tersendiri untuk membuat 17 anak didiknya senang belajar. Baginya, keindahan alam kepulauan Raja Ampat dapat menjadi pembelajaran langsung atas Maha Besar dan Maha Kuasanya Allah yang telah menciptakan alam seeksotis Kepulauan Raja Ampat.
***
Ilustrasi gambaran pada Musa dan Ali di atas telah membuat Tim Kafilah Da’wah STID Mohammad Natsir yang sedang bertugas di Raja Ampat Papua menentukan prioritas kegiatan selama dua bulan ke depan. Kelemahan perhatian dan pengajaran baca tulis al-Qur’an di sana memang terjadi secara masif dan berada pada titik yang mengharukan. Tidak saja dari sisi para pengajarnya atau sarana, bahkan sekedar buku Iqro’ saja amat terbatas. Sulit untuk menilai dengan tolak ukur tertentu ketika mata dan hati ini tertuju kepada saudara muslim kita di Kepulauan Raja Ampat Papua, mereka punya semangat tapi tidak tahu bagaimana cara memulainya.
Menjelang bulan Ramadhan ini, Tim Kafilah Da’wah yang telah berada tiga pekan di lokasi juga telah menyusun kegiatan untuk pendampingan anak-anak, khususnya prioritas kegiatan “Belajar Baca Tulis Al-Quran”. Ada tiga pulau yang di tetapkan untuk menjalankan kegiatan tersebut, Pulau Waisai, Sonek dan Jepman. Tim Kafilah bahkan juga telah mengagendakan pelatihan pemula bagi pemuda daerah yang berminat melanjutkan kegiatan yang sedang dirintis ini. Tim Kafilah berharap kelak di tanah Raja Ampat ini akan terdapat TPQ-TPQ yang baik. Setidaknya dengan program baca tulis al-Qur’an ini masyarakat muslim Raja Ampat mulai melirik kesempatan yang ada. Allah SWT tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri (QS. Ar-Rad: 11). Keelokan ciptaan alam seeksotis Kepulauan Raja Ampat merupakan karunia Sang Khaliq yang tiada tara, para penyelam dan petualang pun mengakui keindahan taman laut dan karang Raja Ampat melebihi indahnya pulau Weh di Aceh yang terkenal di mancanegara. Alampun bertasbih kepada Khaliknya, desiran ombak dan hembusan angin adalah cara alam bertasbih kepadaNya. “Sesungguhnya Allah tidah akan merubah satu nikmat yang telah dianugerakan-Nya kepada suatu kaum, selama kaum itu tetap ta’at dan bersyukur kepada-Nya” ( Q.S. Al-Anfal 53). Kaf. Da’wah Center

http://www.stidnatsir.ac.id