Hanya Di Indonesia, Kapolda Memaksa Wasit Di Ganti

Kapolda Jawa Tengah Alex B Riatmodjo meminta agar wasit Jimmy Napitupulu yang memimpin laga final Piala Indonesia 2010 diganti saat memasuki babak kedua. Akibatnya pertandingan pun sempat tertunda selama hampir sejam lamanya.


Kepemimpinan Jimmy pada laga yang digelar di Stadion Manahan Solo, Jawa Tengah ini dianggap berat sebelah. Tudingan datang dari Kapolda Jawa Tengah, Alex B Riatmodjo. Tak sampai di situ saja, Bambang lantas meminta agar Jimmy diganti di babak kedua.

Jimmy menolak. Pertandingan babak kedua pun tertunda selama hampir sejam karena Bambang mengancam akan menghentikan pertandingan bila wasit berlisensi FIFA itu tidak diganti. Pertimbangannya kepemimpinan Jimmy bisa memicu kerusuhan penonton.

Presiden Direktur PT Liga Indonesia, Andi Darussalam, Ketua Komisi Wasit, Togar Manahan Nero, dan Bambang pun berunding. Setelah memanggil Jimmy, Bambang akhirnya melunak dan kembali memberi izin pertandingan.

Di babak kedua, Jimmy kembali menjalankan tugasnya. Beberapa keputusannya sempat mendapat protes dari pemain dan pelatih Arema Indonesia. Beberapa penonton juga ikut menghujat Jimmy dengan kata-kata kotor.

Bahkan beberapa kali botol beterbangan ke tengah lapangan sebagai respon atas keputusan Jimmy. Meski demikian, Jimmy tetap tegas dalam mengambil keputusan hingga laga usai. Pertandingan berakhir dengan skor 2-1 untuk kemenangan SFC.

Bagaimana Jimmy menanggapi kejadian ini? Berikut petikan wawancara dengan salah satu wasit terbaik Indonesia tersebut.

Apa sebenarnya yang diinginkan Kapolda Jateng kepada Anda?
Dia (Kapolda Jateng, Alex B Riatmodjo) hanya mengatakan wasit Jimmy harus diganti. Sekarang pengawas pertandingan tidak bisa mengganti saya. Itu peraturan.

Lantas siapa yang berhak mengganti Anda?
Yang berhak mengganti wasit itu adalah wasit itu sendiri. Kalau saya tidak sanggup lagi, kalau saya pincang, saya keram, atau saya sakit perut dengan pemeriksaan dari dokter dan ada surat dari dokter yang mengatakan saya perlu diganti, baru saya boleh diganti. Selama masih mampu memimpin pertandingan tidak seorangpun yang bisa mengganti wasit termasuk presiden.

Jangankan presiden, masuk ke dalam lapangan tanpa seizin saya pun tidak boleh. Itu sebabnya, BLI (PT Liga Indonesia) pun tidak bisa ikut campur, tidak bisa intervensi saya. Pengawas pertandingan juga tidak berhak mengganti saya.

Bagaimana kalau seandainya Anda sampai diganti?

Kalau saya sampai saya diganti saya akan lapor FIFA. Betul, saya akan lapor FIFA karena di sini saya bisa. Saya akan lapor AFC, saya akan lapor FIFA karena saya tidak cedera tidak sakit tapi diganti.

Apakah PP sempat meminta kepada anda agar diganti?
Nggak. PP (Pengawas Pertandingan) hanya menanyakan apakah kau masih siap? Saya jawab siap. “Kalau begitu lanjutkan, saya dukung kau,” kata PP.

Setelah itu ada perundingan antara BLI (PT Liga Indonsia), Kapolda, dan Komite wasit. Kemudian ditanyakan bagaimana solusinya. Wasit lalu dipanggil.

Setelah itu apa yang terjadi?
Kapolda mengatakan kepada saya? “Apakah anda bisa memimpin lebih baik lagi di babak kedua?” Trus saya tanya, “Kesalahan saya apa pak?” Katanya, “Kamu tadi tidak lihat kalau pemain nomor sembilan mendorong wajah salah satu lawannya.”

Lalu saya jawab, “Kalau saya lihat pasti saya hukum.” Saya manusia. Selagi saya tidak lihat saya tidak tahu apa yang saya tidak lihat. Oke itu satu. Sekarang giliran saya yang bicara. Piala Dunia antara Jerman lawan Inggris. Inggris membuat gol tapi tidak disahkan oleh wasit. Diganti nggak wasitnya? Ada polisi intervensi? Tidak ada!

Kapolda mengatakan di hadapan televisi nasional, kalau anda bersedia memperbaiki kekeliruan di babak pertama. Apakah ada pembicaraan seperti itu?

Saya tidak bilang memperbaiki kekeliruan tapi saya bilang akan memperbaiki penampilan dan performa saya. Kalau saya keliru, berarti saya tahu dong kalau saya salah.

Apakah anda merasa diintervensi?
Kalau saya merasa tidak diintervensi kenapa Kapolda meminta saya diganti? Tapi saya tidak mau. Anda-anda, saya-saya. Selagi dalam pertandingan sepakbola dan saya memimpin saya tidak akan mau diganti. Saya profesional dalam menjalankan tugas saya.

Apakah anda terbebani dengan kejadian ini?
Tidak ada. Saya tidak terpengaruh dengan orang di luar. Yang penting saya konsentrasi di dalam lapangan. Mau apa kata suporter di luar, saya tidak perduli. Saya adalah Jimmy.

Apa kejadian seperti ini pantas dalam sepakbola?
Tidak boleh. Saya katakan ini tidak sehat. Pertandingan ada aturannya sendiri. Kita kenal hukum. Dalam hukum juga dikenal lex specialis derogat lex generalis.

Bahwa peraturan khusus tidak boleh di bawa ke peraturan umum. Dalam sepakbola sudah ada aturannya. Pemain salah, kartu kuning, kartu merah. Dilanjutkan ke Komisi Disiplin kemudian didenda. Itu sudah aturannya.

Sebelumnya anda pernah mengalami kejadian seperti ini?
Ini pertama kali. Tapi dua bulan lalu dia (Kapolda) justru ngasih saya hadiah Rp 5 juta karena katanya saya bagus mimpin pertandingan Persiba vs Persijap.

Dikasihnya saya lima juta. Apakah karena saya menghukum kartu merah saya dikatakan tidak adil?

http://www.arenabola.com/?page=artikel&act=detail&id=10590