Perempuan dari Andara

Menuju Puncak, Bogor
Andri menawarkan diri, ingin sekalian ikut, melihat-lihat tempat kerjaku, cottage. Terletak menjelang kawasan Puncak, Cipayung, Jawa Barat. Usai shalat Magrib berjamaah di musholla stasiun, kami bergegas meluncur.

“Rua…payu…rua payu!” pekik kenek naik turun. Berebutan.
Rua payu? Adakah nama daerah itu di kawasan Puncak? Setelah ku renungkan, rupanya yang dimaksudkan oleh para kenek itu, Cisarua dan Cipayung! Ah…ada-ada saja ulah mereka itu!
Di atas angkot, sederet cerita Andri mengalir. Bagaimana seharusnya menjadi sosok pribadi muslim, keprihatinnya terhadap dunia internasional yang selalu menskreditkan ummat islam, sampai masalah Palestina.

Hujan lebat menyambut kedatangan kami di Cipayung. Untung, tepat di pertigaan jalan hendak menuju ke cottage, hujan mereda seketika. Alhamdulillah. Usai makan malam, shalat isya berjamaah, kemudian murojaah, istilah Andri yang segera kuakrabi, kami banyak tafakur. Arak awan mulai disapu bayu. Andri kulihat pulas melawan lelah dan dinginnya hawa kawasan Puncak.
Sepertiga malam, Andri membangunkan tidurku. Berjamaah, qiyamul lail kami dirikan. Aku paksakan diri untuk menyempurnakan, sebelas rakaat, meski kantuk menyerang tak tanggung-tanggung.

Ba’dha Subuh. Di tengah gumpalan kabut Cipayung. Andri pamit. Ada mata kuliah jam delapan. Aku antarkan ke jalan raya Bogor-Puncak.
Aku bekerja full time! Libur hanya satu hari dalam sepekan. Hari Sabtu. Sudah tradisi, aku biasanya pasti pulang kembali ke kos-an.
Menjelang keberangkatanku kembali ke Depok. Aku sibuk membolak-balik adress book. Mencari nomor telepon dan nomor HP yang pernah dituliskan Andri.

KRL Jabotabek, Bogor-Depok.
Dalam perjalanan balik ke Depok. Mentari setengah meninggi. Anganku berpacu tentang kondisi pekerjaanku yang sudah setengah-setengah hati aku jalani. Aku mau keluar! Aku mau pindah! Bagaimana karir kepenulisanku? Bila harus dan terus memaksakan diri dengan sesuatu yang tak lagi aku nikmati, rasanya sia-sia.

Stasiun Pondok Cina.
Kutelusuri gang sempit jelang ke kos-an. Letih menyergap di ruas-ruas sendi. Sesampai di sana lengang tak berorang. Kemana teman-teman lainnya? Ah, selalu begitu. Yang namanya mahasiswa, selain jadwal kuliah yang mau tak mau harus dipatuhi, tak ada lagi. Begitu tak ada perkuliahan, bebas suka-suka kemana saja.
Aku membolak-balik adress book ulang. Hhm… ada nomor telepon rumahnya juga dituliskan Andri. Akan kucoba. Itung-itung silaturrahmi.

Tepat mentari tegak lurus menghujamkan sinarnya di ubun-ubun kepalaku, belum juga kutemukan rumah perempuan itu, yang berarti kediaman Andri. Tak dapat kubayangkan seperti apa gerangan sosok perempuan itu. Pertanyaan satu persatu serta merta berpacu dibenakku tentang bayangannya. Sifat seperti apa gerangan yang dimiliki perempuan itu, hingga mampu menyepuh anaknya berbudi emas seperti itu. Setidaknya itu kesanku sejak pertama kali bertemu sampai saat ini.

Andri, anak muda dua puluh tahun itu memberiku sesuatu! Dan…itu takkan bisa kugantikan dengan apapun. Walau ia sendiri tak menyadari. Tapi buatku, justru menimbulkan keinginan untuk mengetahuinya lebih dekat. Ya, keluarganya. Adik-adiknya yang dua orang itu serta ibu-bapaknya.
“Bisa timbul fitnah!” sela teman sepengajianku saat aku menceritakan niatku hendak mengunjungi perempuan itu.

“Fitnah? Ah…yang benar aja! Yang akan aku kunjungi itu sudah Ibu-ibu, kok!?” keningku mengkerut.
“Justru karena itu,” angguk salah seorang dari temanku itu pertanda mendukung setuju.
“Umur ibunya berapa?”
“Yah..aku belum tahulah! Aku saja baru berencana mau kesana!”
“Kalau anaknya yang paling besar sama usianya dengan kita, berarti empat puluhan sudah ada kali ya!?”

“Kok…jadinya mempermasalahkan umurnya sih? Niat dan tujuanku hanya satu, ingin menambah kenalan. Apalagi aku sudah berkenalan, cerita panjang lebar dengan anaknya. Kesanku, Andri senang berteman denganku. Buktinya, Andri berulang kali memintaku datang, walaupun ia sedang tak berada di rumah. Ya, itung-itung silaturahmi sekalian! Bolehkan?”

Berbekal nomor telepon rumahnya yang diberikan Andri. Aku beranikan diri menelpon.
Aku meluncur dari Pasar Minggu. Kemudian, naik angkot 61 warna biru. Turunnya di jalan Andara. Ku abaikan dengan sedikit senyuman tawaran para tukang ojek yang mangkal di bagian depan jalan.
Bukan karena aku belum tahu persis alamat yang hendak kutuju. Tapi, karena uang di dompetku yang memang pas-pasan, kalau tak patut disebut lagi cekak!

Akhirnya, berjalan kaki adalah pilihanku nomor satu. Kata pakar kesehatan, jalan kaki itu salah bentuk olah raga paling murah, meriah pula. Tentunya dapat menyehatkan badan.

Di Jepang, para lansia banyak yang berumur panjang, konon dari yang kubaca, rata-rata dari mereka, banyak yang suka memilih berjalan kaki kemana-mana.

Kalau dibawakan ke Jakarta, agaknya kurang tepat. Bayangkan saja, nyaris disetiap sisi jalan trotoar Jakarta, ramainya oleh para pedagang kaki lima! Bagaimana bisa menikmati jalan kaki seperti di negeri Sakura itu?
Masuk ke tikungan kedua. Tanda-tanda rumah yang mendekati nomor itu belum juga ada. Mau menelpon lagi, wartelpun tak nampak dari sekitar sini.

“Maaf, Bu! Mau nanya, dimana rumah Andri, ya?”
“Andri yang mana, ya!?”
“Anaknya putih, tingginya sedang.”
“Anaknya siapa toh?” celetuk seorang dari mereka.
“RT-nya… RT berapa, Dek!?” imbuh yang lainnya penasaran.
“001, No 04!”
“Ooo…Andri anaknya Bu Yayuk itu loh, Mbak!” mereka saling pandang, saling menebak.
“Andri anaknya Bu Yayuk bukan!?”
“Wah, saya nggak tahu, Bu!”
“Adek lurus ke jalan ini, ketemu rumah di depannya, ada seperti pendopo, belok kanan. Rumahnya cat hijau! Nanya disitu ya!?” wakil dariiIbu-ibu itu seperti menaruh iba padaku.
“Terima kasih, Bu!”

Jalan Andara
Sederhana sekali bangunannya. Lima batang tanaman penghias dalam pot yang dipajang rapi di depannya menambah kesan asri. Teras depan berpadu elok dengan semua dinding. Menyejukkan setiap mata yang memandang. Walau ukuran bangunannya hanya seperti rumah petak biasa.
“Assalamualaikum!” sapaku hati-hati.
Takut salah alamat. Begitu mataku tertumbuk ke sebuah papan alamat yang dipajang di dekat pintu masuk, persis sama dengan yang dituliskan Andri, takutku sirna tiba-tiba.

“Walaikumsalam! Sebentar!” ramah sekali kedengarannya.
“Saya Ari, temannya Andri!”
“Ooo…Mas… yang dibilang Andri, penulis itu ya?”
“Bukan penulis, Bu! Saya masih belajar kok di dunia tulis-menulis!” ujarku santun.
Perempuan itu berlalu ke ruang dapur. Jilbab putih polos ukuran jumbo itu sedikit mengibas ujungnya ulah kipas angin yang dipasang di tengah rumah.

“Silahkan di minum, Mas! Sekalian di makan kuenya!”
Segelas syrup rasa orange. Beberapa buah jeruk. Dalam sungkan aku berusaha menikmatinya.
“Maaf, beginilah rumah Andri!”
“Ooo nggak apa-apa, Bu! Di sini sangat sejuk dan asri sekali!”
“Susah nggak mencari alamatnya? Naik apa tadi ke sini?” sapanya ramah.
“Nggak, Bu! Gampang kok! Tadi, jalan kaki saja, biar sehat!” tangkisku ringan memupuk kepercayaan diri.

Tak lebih tiga jam aku bertamu. Aku pamitan.
“Nggak nunggu Andri dulu, Mas? Tadi Andri nelpon ke rumah. Pulangnya agak sore, katanya!”
“Nggak apa-apa, Bu. Lain kali, insya Allah saya datang kemari lagi!”

Aku lewati kembali rute yang sama. Usai menunaikan shalat dzuhur di sebuah mushalla dekat situ, aku renungi kata-kata Ibu tadi.
Andri banyak berubah setelah masuk Rohis. Ibu itu sendiri memutuskan hijrah, selalu berkerudung ukuran jumbo, menjadikan rumahnya sebagai tempat mengaji bagi Ibu-ibu di sekitar tempat itu. Ia sengaja memutuskan pensiun dini dari sebuah perusahaan telekomunikasi terbesar, semata-mata ingin mencari apa-apa yang sesungguhnya di ridhoi Allah!

Semua penuturannya itu bisa ku maklumi. Mungkin malah alasan yang sudah basi. Hal semacam itu banyak pula dialami oleh perempuan-perempuan yang lainnya! Jadi apa istimewanya dengan perempuan itu?

Yang menarik dan membuat kepalaku menggeleng-geleng adalah keputusannya berpisah dari suaminya. Bapak bagi tiga anaknya.
“Bapak suka bermain-main dalam masalah aqidah!”
“Maaf maksud ibu!?”
“Bapak berani sekali menebak-nebak masalah nasib orang!”
Ingin aku tanyakan, apakah Bapak seorang paranormal? Tetapi tak enak.

Menanyakan sesuatu yang sensitif buat seseorang adalah tak baik! Sebisa-bisa mungkin carilah pertanyaan yang pengganti! Yang membuat orang merasa diperhatikan! Mengiang di telingaku nasehat teman-teman sepengajianku.

“Begini, Mas! Bapak mengaku pernah didatangi anggota Walisongo. Rumah ini di lindungi oleh Pangeran Jayakarta, anak-anak akan diwariskan oleh bapak semacam ilmu kebatinan, biar bisa terlindungi. Bahkan, bapak secara tak langsung menjadikan rumah ini sebagai praktek kerjanya. Dijadikan tempat buat orang-orang di sekitar sini untuk berkonsultasi. Berbagai macam-macam persoalan. Orang-orang menanyakan bagaimana nasibnya, kalau ia terus bekerja di bidang itu? Bidang ini? Bagaimana cara supaya jualan di warungnya makin laris? Apa benda keramat yang harus dipasang? Bagi para isteri-isteri di sekitar sini, ingin tahu cara apa rahasianya agar tetap disayang suami? Bahkan ada yang minta diberitahukan resep, bagaimana suami tak berpaling ke wanita lain? Sedang yang berprofesi sebagai pekerja kantoran, menanyakan bagaimana triknya agar jabatan aman! Tak diganggu oleh pekerja yang lain? Kalau bisa naik jabatan tiap bulan! Bagi para manula menanyakan, bagaimana resepnya agar selalu tampak awet muda.”
Mulutku membulat. Kepalaku mengangguk-angguk dibuatnya.

“Apakah dengan berpisah itu cara terbaik, Bu?”
“Sebenarnya itu memang bukan pilihan terbaik, di antara yang terburuk. Ibu paham, bercerai adalah salah satu perbuatan yang dibenci oleh Allah. Tapi setelah ibu pikir-pikir, renungi, inikan masalah tauhid, ibu khawatir anak-anakkan bertambah besar, kalau satu persatu nanti tergelincir dalam masalah tauhid ini, ibu rasa itu sangat berbahaya. Baik di dunia apalagi di akhirat nantinya! Wallahu’alam!”

Nafas ku hela dalam. Mencoba mengerti hati perempuan ini. Di saat ia sedang berupaya mengkaji lebih dalam agama Allah, lewat bimbingan seorang ustadzah, di saat ia putuskan benar-benar kaffah menjalankan syari’at, suaminya malah memberikan contoh yang sangat rentan menggelincirkan keyakinan.

“Mungkin sikap ibu ini tidak syar’i sama sekali! Tapi di satu sisi, demi perkembangan jiwa anak-anak ke depan, ibu memilih berpisah saja! Andri, anak yang sulung, ibu tekankan untuk selalu menyambungkan tali silaturrahmi, selalu membentengi diri dengan shaum Senin-Kamis, tilawah Al-Quran 1 juz I hari, membaca Al-ma’tsurat tiap pagi dan petang hari, tebarkan salam, dan yang tak boleh lupa, menyisihkan sedikit dari rejeki tiap hari, buat infaq, sedeqah serta derma!”

“Prestasi ibadah Andri lainnya, Bu? Maaf, bukan hendak menimbulkan ujub di hati ibu, tapi sebagai contoh buat anak-anak muda seperti kami.”
“Sudah delapan tahun ini, Andri ikut dalam satu kelompok mengaji. Qiyammul lail, sunat fajar, dhuha, istikharah, ibu tekankan benar jangan sampai ditinggalkan! Usai kuliahnya nanti, harapan ibu, Andri bisa menjadi pemuda mandiri. Kalau dimungkinkan, ibu mengharapkan, ia menjadi enterpreneur sejati, wiraswasta, pedagang sukses yang islami. Terserah! Asal bergelut di bidangnya, ekonomi, tapi ekonomi syari’ah! Ibu tak ingin Andri punya mental kantoran! Andri harus punya skill mandiri!”
“Kenapa ibu tak ingin Andri menjadi pekerja kantoran? Ya, karyawan begitu!?”
“Medan dakwah butuh dana yang tidak bisa dibilang kecil. Kalau dana yang di infakkan bersumber bukan dari usaha sendiri, di khawatirkan nantinya akan rentan dan tergantung dari maju mundur kinerjanya kita di perusahaan tersebut. Bukan tak mungkin, harus melaporkan dulu kepada atasan! Sedang rata-rata pengusaha besar di negeri ini….Mas sudah tahu sendirilah! Bila dari sekarang ditekadkan merintis usaha, wiraswasta sendiri, takkan ada waktu tenggang untuk mengucurkan bantuan dalam bentuk apapun! Kapanpun!”
Kekagumanku pada jalan pikiran ibu itu, yang merentas waktu jauh ke masa depan, sungguh di luar dugaan.
Mataku menyisir kitab-kitab dan buku-buku, serta majalah-majalah islami yang tesusun cantik pada rak buku di salah satu ruang kamar rumah itu. Perpustakaan pribadikah?
Wisma Putih, Kawasan Kapuk
Sesampai di kost, aku membayangkan, bila saja aku disepuh oleh seorang ibu semacam itu. Entah jadi apa diriku nanti! Juru dakwah, itulah di antara niat di hatiku.
Sejak itu, aku semakin sering berinteraksi dengan Andri. Ibaratnya, bila orang berteman dengan penjual minyak wangi, maka ia akan terkena cipratan wanginya. Begitu pula pertemananku dengan Andri pada akhirnya.
Semua bermula hanya dari tebarkan salamnya seorang Andri. Dilanjutkan sampai berkenalan lebih jauh untuk kesekian kalinya. Bahkan aku sampai diajak Andri ke Yogyakarta. Berkenalan dengan semua anggota sanak familinya yang tinggal di kota Budaya, yang juga kota Pendidikan itu.
Dari semakin saling tukar cerita, saling sehat menasehati, perlahan aku mulai benar-benar punya kebiasaan seperti Andri.
Beberapa ritual ibadah yang tak pernah aku tinggalkan sampai kini. Qiyamul lail, shalat sunat fajar, dhuha, membaca Al-Quran 1 juz I hari, adalah ulah sentuhan tausyah Andri. Entah apalagi. Aku berharap bisa berbudi emas pula!
Dan menjelang masa kerjaku habis di cottage itu, Aku diminta Andri untuk datang ke rumahnya, di daerah Andara.
“Mas Ari, kata Ummi, sekarang Mas bukan siapa-siapa lagi, tetapi sudah dianggap keluarga sendiri. Anak angkat Ummi!” ujar Andri dengan senyum penuh arti.
Ummi? Siapakah yang disebut-sebut Andri dengan sebutan ummi? Lama aku menyangsikan apa yang dikatakan Andri itu. Aku berpikir keras apa maksudnya berkata begitu? Benarkah aku aku akan menjadi anak angkat Ummi? Yang berarti anak angkat ibu itu! Anak angkat dari sebuah keluarga yang selalu sibuk dengan urusan agama.
Apakah yang diceritakan oleh Andri tentang diriku kepada ibunya, hingga memutuskan tiada ragu sedikitpun jua, menganggapku anak angkatnya sendiri.
Ummi dan Andri, sama-sama terjun pula ke sebuah organisasi pergerakan da’wah. Keduanya kini menjadi aktivis. Dan juga, saat ini keduanya sedang menyiapkan diri menjadi murobbi yang sukses.
Mataku berlinang-linang di sela-sela bacaan murottal yang dilantunkan Andri. Sementara aku bergiat mempertebal keyakinan diri. Aku tak perlu terlalu asing lagi hidup di rantau orang. Aku tak perlu merasa sendiri lagi. Tak perlu menitikkan air mata lagi, bila semua masalah tak bisa ku pecahkan sendiri.
Yang paling menambah semangat baru dalam hidupku, Andri bersedia menjadi saksi, saat pernikahanku nanti!
Aku merangkai hari lebih berwarna lagi. Sebab, yang semula biasa ku menyapanya ibu, kini harus ku biasakan memanggilnya Ummi. Di mataku ia memang bukan perempuan biasa. Perempuan itu…ummi…juga guru mengaji.
Baru kini aku menyadari, ternyata kedatanganku pertama kali, seharusnya menanyakan dimana rumah guru mengaji tanpa digaji itu? Jawabnya tentu saja perempuan dari Andara. (AaG/FJH)

Annida Online Senin, 31 Januari 05